Artikel ini kurang lebih mirip dengan tulisan saya sebelumnya.. tidak ada salahnya untuk dishare

Ini kisah nyata. Ada seorang gadis diujung tiga puluh yang sederhana dalam hampir semua hal. Wajahnya sederhana, dalam artian tidak cantik, meski tidak juga terlalu jelek. Kekayaannya sederhana, maksudnya jelas tidak bisa dibilang kaya. Otak juga biasa-biasa saja. Keturunan, sama sekali tidak ada darah birunya, ditarik dari garis mana pun. Yang lain adalah dia miliki berat badan yang sedikit agak berlebih dengan postur tubuh tinggi besar dan warna kulit agak hitam.
 
Kelebihannya — Maha Kasih Allah, di antara begitu banyak kekurangan, ia juga tetap memiliki kelebihan-kelebihan yang bisa dibanggakan — ia rajin membaca sehingga wawasannya luas. Ia juga senang berdiskusi, supel dan tulus. Itu sebabnya ia punya banyak sekali teman.
Istimewanya, diusianya yang sudah cukup ‘tua’ itu, ia, sebut saja si A, belum pernah sama sekali merasa dicintai oleh lawan jenisnya. Kalau perkara jatuh cinta, wah… sudah berkali-kali. Tapi, selalu dan selalu, ia cuma bertepuk sebelah tangan. Jikapun ia sempat dekat dengan beberapa pria, belakangan selalu gagal. Ada yang hanya menfaatkan posisinya untuk mengambil keuntungan. Ada yang cuma untuk sharing. Ada yang — entah mengapa malah meninggalkannya setelah ia betul-betul setia dan amat penuh perhatian pada si pria tersebut. Padahal lagi, konon kabarnya, seorang pria itu cenderung tertarik pada daya tarik fisik seorang perempuan, tapi ia juga akan betul-betul takluk pada perempuan yang amat setia dan penuh perhatian padanya. Lihat saja Sarah yang berhasil menaklukkan si Doel, tukang insinyur yang sekeras baja itu, dalam sinetron beken ‘Si Doel Anak Sekolahan.”
“Iya, tentu saja! Sarah ‘kan cantik,” bantah A ketika ‘dikonfirmasi’ tentang pendapatnya menyikapi masalah ini. “Karenanya, ia berhak dicintai,” sambungnya datar.
Lalu apa hubungan antara cantik dan hak untuk dicintai? Secara subjektif, tentu ada! Tolong jangan protes dulu!
Sekarang coba kita telusuri. Siapa yang biasanya memiliki ‘otoritas’ dan ‘kewenangan’ untuk memilih pasangan hidup lebih besar? Pria, bukan? Kebiasaan-kebiasaan yang berlaku, dan sepertinya dipelihara terus oleh sistem sosial, menempatkan pria dalam posisi pelamar. Sedangkan perempuan berada pada posisi yang dilamar.
Jadi, peran aktif para perempuan umumnnya hanyalah sebatas memilih calon-calon yang datang padanya. Lalu, bila belum ada atau tidak yang datang memilihnya, maka hak itu menjadi hak tak terpakai. Lain halnya dengan pria, dimana pun, kapan pun, dan bagaimanapun bentuk fisiknya, ia dapat saja memilih-milih seseorang atau bahkan beberapa orang perempuan, sebelum ia akhirnya sampai pada keputusan final untuk menikahi sang perempuan.
Sementara itu, apa sih yang kebanyakan membuat seorang pria cenderung kepada seorang perempuan? Pada sebuah hadist, Rasulullah saw, menyebutkan empat kriteria pada seorang perempuan yang menyebabkan ia dicenderungi/dinikahi seorang pria, yaitu: kecantikan, keturunan, harta, dan keshalihahan.
Lalu, apa sih yang pertama kali tampak ketika kita bertemu atau berkenalan dengan seseorang? Penampakan fisik seperti kecantikan atau ketampanan, bukan? Keturunan tidak akan segera diketahui. Demikian juga harta pada orang-orang tertentu. Bisa jadi ia kaya, tapi tak kelihatan. Atau juga sebaliknya. Kadar keimanan apalagi, ini paling sulit dideteksi.
Bila ada dua orang gadis sama-sama berjilbab, atau dua perempuan sama-sama rajin sholat, bagaimana kita menentukan yang mana yang lebih shalihah diantara keduanya? Sulit, bukan? Maka boleh dikatakan wajar jika banyak pria menempatkan kriteria cantik, ayu, manis, jelita, enak dipandang ini — sadar atau tidak — pada prioritas pertama. Sementara itu, kriteria shalihah, yang menurut hadist tersebut harusnya dikedepankan, cuma bisa diletakkan di urutan kesekian.
Kemudian muncul kriteria darurat, urgently saved, harus segera diselematkan. Para perempuan yang masuk kriteria itu adalah yang kriteria fisiknya menonjol alias cantik dan sejenisnya. Darurat, harus segera diselamatkan karena kalau tidak, bisa membahayakan. Bisa membuat hati dan iman para pria kebat-kebit tak keruan. Terutama hati dan iman si pria yang ngotot jadi pahlawan itu, bukan? Astaghfirullah, egois betul kalau memang begitu keadaannya.
So the story goes, berlomba-lombalah para pria memetik bunga-bunga jelita itu untuk keamanan. Sunatullah berlaku, bahwa kita akan sampai pada suatu zaman di mana jumlah perempuan akan sangat lebih banyak dari pria. Dan itu sudah mulai terjadi pada zaman ini. Maka the winner takes it all. Selektivitas menempatkan para perempuan yang kebetulan ditakdirkan bukan memiliki kelebihan pada physical appearcence, pada posisi tak terpilih.
Padahal bukankah masalah darurat itu hanyalah alasan-alasan yang dibuat-buat untuk kepentingan mata dan nafsu segolongan dari suatu kaum saja? Mengapa para perempuan yang tidak cantik dianggap tidak bermasalah sehingga tidak perlu ditolong? Anehnya lagi, beberapa pria baik pun seperti terjerat dalam fenomena ini.
Dan tinggallah perempuan-perempuan itu dalam kesendiriannya. Ia berjuang buat hidup dan matinya sendirian. Ia menjadi sekeras baja dan penuh kemandirian. Tapi, ia tetap manusia. Ia tetap bisa jatuh cinta dan tetap butuh untuk dicintai. Sementara setiap ia mulai mencintai, ia akan dihadapkan pada kenyataan bahwa ia cuma bisa menggunakan hak mencintai dan bukan hak dicintai. Karena seperti sebuah hukum rimba yang berlaku dalam sistem sosial manusia — tanpa disadari — bahwa untuk bisa mendapat sebuah haknya, ia terlebih dulu harus memiliki syarat-syarat kekuatan tertentu yang menyebabkan ia dapat memperoleh haknya itu. Salah satunya, yang terlihat begitu fenomenal, ia harus ‘berpenampilan menarik’ untuk dapat dicintai. Jadi, sistem rimba manusia sepertinya menolerir bahwa hak dicintai adalah hak bersyarat. So what is the difference between men and other? Manusia yang dikarunia akal budi dan nurani masih saja memikirkan segala sesuatu hanya dari sudut enaknya saja, sejauh mana suatu hal bisa menguntungkan mereka.
Terlepas dari benar atau salahnya pandangan saya, maukah Anda, para pria, mengakui bahwa hal-hal seperti itu terbersit dalam benak Anda? I’m living it all up to you.
Bila benar begitu, betapa malangnya nasib perempuan-perempuan yang tidak atau kurang cantik itu. Bukankah mereka pun tidak bisa memilih untuk diciptakan seperti Cindy Crawford atau Nenek Lampir? Anda pun sama! Apakah Anda berhak protes kepada Allah Sang Pencipta bahwa wajah Anda seperti The Beast dan bukan seperti Nabi Yusuf a.s?
Mengapa kita tidak mencoba berpikir lebih bersih lagi? Bahwa apa yang dipilihkan Allah swt. untuk kita adalah yang terbaik. Mengapa kita tidak bisa lebih bersyukur lagi akan apa-apa yang datang dari-Nya? Sehingga bila Anda kebetulan ketemu seorang perempuan yang tidak istimewa secara fisik, sementara sisi-sisi lain Anda lihat cukup baik, Anda tetap bisa mempertimbangkannya. Terlebih bila ia memang mencintai Anda karena keshalihan Anda.
Tendensius sekali, ya? Ah, rasanya tidak! Saya pikir, Allah memang telah mengilhamkan hak mencintai dan dicintai kepada semua manusia, baik atau buruk rupanya, sama seperti Allah mengilhamkan hak hidup, hak bernapas, dan hak kemerdekaan. Asasi sekali, bukan? Lagipula, kita toh bukanlah manusia-manusia bertuhan nafsu, yang bila nafsunya tidak terpenuhi, kita tak akan bisa hidup bahagia. Kita adalah manusia-manusia berbudi yang bisa menangkap ketulusan bahkan dari tempat yang paling tersembunyi sekalipun sehingga kriteria fisik bisa saja dibelakangkan, karena setelah kriteria keshalihan, kita akan mencari kriteria-kriteria ketulusan dan apakah ia mencintai kita karena Allah. Tahukah Anda bahwa dengan ketulusan kita akan dapat melihat sejuta sifat baik pada diri orang lain? Lagipula, better to be loved than to love, iya kan?
Satu lagi, biarlah takdir Allah saja yang mengantarkan kita pada pantai cinta, setelah kita cukup berusaha dengan niat, cara, dan tujuan yang baik. Para perempuan yang belum juga terpilih, semoga Anda  selalu yakin bahwa Allah amat mencintai Anda dan pada-Nya paling berhak kita labuhkan cinta.
 
Ifa Avianty: Berbagi Bening Cinta [catatan seorang ukhti 3]
Iklan