Melanjutkan kisah indah di pagi hari tadi, dengan penuh semangat saya ke luar rumah tersenyum mendengarkan kicau burung. Tarikan nafas dalam-dalam memasukkan sebanyak-banyaknya oksigen segar ke dalam paru-paruku yang sudah jenuh dengan udara kotor Jakarta.
Ritual minggu pagi selain olah raga adalah membersihkan mobil. Sekali lagi saya trsenyum simpul. Semalam tidak hujan, artinya sisa-sisa kebersihan mobil saya setelah dicuci kemarin masih ada.
Tapi… Tunggu dulu, ada noda apa yang nempel di kaca belakang? Ternyata burung-burung yang indah kicauannya itu meninggalkan jejak kotorannya di mobilku. Perasaan kesal mulai menyelimuti. Kuterpaksa mencuci mobilku lagi daripada jejak kotorannya merusak catnya. Burung yang tadinya kupuji dengan keindahan kicauannya menjadi kucaci akibat perbuatannya yang mengotori mobilku.
Kita lihat di sini, burung ternyata juga memiliki sisi seperti halnya koin. Satu sisi memiliki keindahan kicauan, disisi lain kotoran yang merusak cat mobil. Keindahan kicauannya kusukuri, kotorannya kumaki. Keberadaan burung menjadi anugerah sekaligus musibah. Namun jika kita tarik lebih jauh lagi, masalahnya karena saya memiliki mobil yg harus rela dikotori oleh burung tersebut. Jika saya tidak memiliki mobil, masalah itu tidak akan timbul kan? Namun disisi lain memiliki mobil adalah hal yang patut disukuri karena masih segelintir manusia Indonesia yg diberikan keistimewaan untuk membeli mobil baru. Sekarang, memiliki mobil adalah anugerah sekaligus “musibah”.
Jika dilihat2, ternyata semua hal memiliki dua sisi koin yg berlawanan, anugerah dan musibah. Kesulitan bersama kemudahan. Sekarang kita memilih mana, apakah sengsara dengan musibah, atau bersyukur dengan anugerah atas sebuah object yang sama? Tuhan memberikan kita keleluasaan untuk memilih.

Posted with WordPress for BlackBerry.

Iklan