Pagi hari: penundaan membawa bencana
Jalanan di senin pagi merupakan “neraka” bagi sebagian besar rakyat Jakarta. Semua berbondong2 ke tempat kerja demi menghindari neraka ini. Selama seminggu kemarin aku berangkat sepagi mungkin dengan harapan agar segera sampai kantor dan bisa tidur dulu di parkiran. Hari ini aku punya teori lain. Siapa tahu, jika berangkat agak siangan, mobil2 yg berangkat pagi sudah habis, menyisakan jalan yang relatif kosong. Teori ini menguatkan kemalasan aku untuk bangun pagi, sehingga mata baru dapat terbuka penuh setengah jam setelah target waktu bangun.
Teori ternyata jauh dari praktek. Kemacetan di lampu merah kranggan membutuhkan hampir 20 menit. Saat itu aku berteori: siapa tahu arah tol lancar setelah kemacetan ini.
Ternyata jauh panggang dari api. Kemacetan sudah terjadi sbelum pom bensin shell. Antrian yang biasanya ditempuh ‘hanya’ 20 menit, dengan hati terpaksa harus ditempuh 30 menit. Total jendral dari rumah hingga tol cibubur ditempuh 1 jam!
Sepanjang perjalanan pun keikhlasanku diuji berat. Perjalanan rumah kantor harus ditempuh 2,5 jam. Sebuah prestasi yang nyaris ‘biasa’ akhir2 ini. Berita di TV memperkirakan 2015 akan terjadi kemacetan total di Jakarta (yang baru2 ini diralat lagi menjadi 2012). Kalau melihat kondisi dan forecast pasar mobil dari Gaikindo, dan motor dari AISI, tidak heran kalau kemacetan total terjadi di tahun 2011 (itu tahun depan!).
Ujuan keikhlasan belum habis sampai di sana. Kondisi pekerjaan di kantor + meeting yang tidak habis2, membuat aku sertuju dengan pernyataan sebagian besar orang:’I don’t like monday’.

Ujian belum selesai
Pulang sore agak terlambat. Aku melalui jalur plumpang – semper – JORR – Kampung rambutan, untuk jemput istri di rumah mertua. Kondisi kepadatan di jalur semper benar2 menguji kesabaran di penghujung puasa hari ini. Dari jalan di seberang kanan tampak abg dengan dua penumpangnya tanpa helm (udah ABG – pasti nggak punya SIM, nggak pake helm, bertiga pula), berusaha memotong jalurku. Spontan kuklakson mereka, dan akhirnya mereka mengambil jalan di belakangku.
Entah nggak ada angin nggak ada banjir, mereka terpleset dan menyerempet mobilku. Spontan ketiganya jatuh. Sempat ingin minggir dan memaki2 anak2 itu sambil minta pertanggungjawaban merekan karena sudah pasti mobilku rusak akibat perbuatan mereka. Tapi semua kuurungkan. Pertama, memaki2 mereka justru akan menghilangkan pahala puasaku. Kedua, mereka hanyalah ABG bodoh yang tidak mungkin bertanggung jawab. Ketiga, kemungkinan malah berbalik mereka yang akan menyalahkan aku karena menyerempet mereka. Menyadari hal itu, aku terus berjalan, sambil menghibur diri bahwa semua bisa di-cover asuransi. Walaupun aku harus menanggung own risk sebesar 200 ribu rupiah.

Lesson learned
Seperti yang saya selalu katakan kepada orang2 di sekitar, bahwa tantangan terberat di bulan puasa bukanlah makanan atau minuman, melainkan motor, metromini, angkot, hingga truk container. Meminjam kata2 mas Nunu (Erbe Sentanu, pengarang buku Quantum Ikhlas), bahwa temannya pernah berkata kalau jalanan di Jakarta adalah universitas terbaik di dunia untuk belajar kesabaran. Menghadapi jalanan macet, motor yang ugal2an, angkot yang berhenti seenak perutnya, metromini yang lengkap keburukannya, truk coontainer yang besar tapi lebih lambat dari siput jalannya, semua itu adalah ujian. Mario Teguh kemarin berpesan agar kita harus terus berusaha berfikir, berkata, dan bertindak yang baik. Jika ada mobil menyalip dengan semena2, kita harus bersabar dan mendoakan yang baik2 saja. Kita harus ikhlas. Kita akan ikhlas jika kita merasa tidak memiliki apa2 dan bukan siapa2.
Kembali ke kasus kemacetan dan goresan stang motor ABG bodoh tadi, apakah aku ikhlas? Sejauh ini aku masih gondok (masih mencap ABG tadi tolol). Tapi, aku berusaha untuk melepaskan perasaan marah tersebut. Dengan cara apa? Jujurlah dengan perasaan ini. Rasakan saja. Akuilah. Kemudian baru lepaskanlah…

Posted with WordPress for BlackBerry.

Iklan