Sesungguhnya kami telah menurunkan Al Quran pada malam Al Qadar dan tahukah kamu apa yang dimaksud dengan malam kemuliaan (Al Qadar) itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun para malaikat dan Ruh (Jibril) dengan izin Tuhannya untuk mengatur semua urusan. Sejahterahlah (malam itu) sampai terbit fajar

Seorang dalam post-nya di facebook mempertanyakan motivasi orang-orang beribadah secara intensif di 10 hari terakhir bulan Ramadhan ini. Menurutnya adalah aneh apabila orang memiliki motif untuk mendapatkan malam Lailatul Qadar, padahal sesungguhnya malam yang pahalanya bernilai 1000 bulan tersebut adalah makhluk Allah. Kawan saya tersebut menganjurkan agar kita meluruskan niat ibadah kita hanya untuk Allah semata, jangan yang lain. Atau menurut pengertian saya artinya IKHLAS.

Allah memertintahkan kita untuk meikhlaskan ketaatan kita kepada-Nya:

(Katakanlah), “Luruskanlah muka diri(mu) setiap sholat, dan sembahlah Allah dengan mengikhlaskan keta’atanmu kepada-Nya”

(QS. 7: 29)

Sementara di ayat yang lainnya, dijelaskan bahwa orang Ikhlas hanya mencari Ridho Allah:

Mereka (di dunia) memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim, dan orang yang ditawan. (Mereka berkata), “sungguh kami memberikan makanan kepadamu hanya untuk mengharap ridho Allah, kami tidak menghendaki balasan dari kamu dan tidak juga (ucapan) terima kasih.

(QS. 76: 8 – 9)

Kelak akan dijauhkan orang yang paling takwa dari neraka itu, yang menafkahkan hartanya (di jalan Allah) untuk membersihkannya, padahal tidak ada seorang pun memberikan nikmat kepadanya yang harus dibalasnya, tetapi (dia memberikan itu semata-mata) karena mencari keridhoan Tuhannya Yang Maha Tinggi

(QS. 92: 17 – 20)

Lalu, apa sesungguhnya arti dari ridho Allah tersebut? A Wahib Mu’thi (Dewan Pakar Pusat Studi al-Qur’an) menyatakan bahwa:

Secara harfiah, ridho itu diterjemahkan dengan ‘rela’ atau ‘perkenan’ atau ‘senang’ (puas) dengan sesuatu. Allah ridho kepada hamba-Nya, berarti Allah rela, berkenan, dan senang dengan apa yang diperbuat oleh hamba itu.

Ridho lebih dari sekadar pahala. Pahala adalah istilah yang digunakan melalui pendekatan hukum, sedangkan ridho istilah yang digunakan melalui pendekatan spiritual

Lalu, apakah layak seseorang beribadah untuk mendapatkan pahala dari-Nya? Dalam beberapa kesempatan, saya mencatat ada beberapa motivasi orang beribadah:

  1. Karena takut masuk neraka (takut berbuat dosa)
  2. Karena ingin masuk surga (ingin mendapatkan pahala)
  3. Karena cintanya kepada Allah SWT.

Untuk para sufi, ibadah yang dilandasi oleh rasa cintanya kepada Allah SWT adalah tingkatan tertinggi dari motivasi beribadah. Namun untuk mengukur ke-afdhol-an ibadah  yang didasari oleh masing-masing motif di atas, hanya Allah yang tahu, termasuk juga motif orang beribadah intensif di 10 malam terakhir Ramadhan, apakah untuk mendapatkan Lailatul Qadar atau Ridha Allah?

Iklan