Matahari tepat di atas kepala. Begitu panas. Ditambah suasana berdebu, dan bau belerang menyengat. Ah! Begitu susahnya bernafas tanpa harus berpening kepala oleh aroma belerang. Di waktu yang singkat tugas saya ke Surabaya minggu lalu, siang hari itu saya sempatkan untuk melihat secara langsung sebuah tragedi alam yang menurut saya luar biasa. Perlahan tapi begitu merangsek! Menelan sekian lama jerih payah, memakan semua usaha dan melahap ketenangan dan kemapanan. Yah! Lumpur Porong! Sesuatu yang biasanya hanya saya lihat di tayangan televisi, siang terik itu ada di depan mata saya.

“Itu, Pak,.. tepat di sebelah antena radio yang tinggal kelihatan ujungnya itu… Di situlah rumah saya dulu…” adalah kata-kata seorang bapak satpam yang siang itu rela mengantar saya sampai ke bibir tanggul lumpur di sisi bekas jalan tol Surabaya-Porong. Tak ada ekspresi apa pun dari si bapak satpam ini. Hanya berbicara datar, seolah rasa sedih dan menangis sudah habis lewat terkuras sejak beberapa bulan lalu.

“Sekarang keluarga di mana, Pak..?” tanya saya.

“Yah,.. bersyukur kita masih diberi tempat mengungsi di pasar., Pak…” kata si bapak satpam ini dengan logat khas Jawa Timur.

Hmm, luar biasa bapak ini, dalam situasi seperti itu masih bisa bersyukur.

Begitu banyak sudah ulasan mengenai Lumpur Porong ini. Apakah itu memang sebuah bencana alam, atau itu sebuah keteledoran manusia yang kelewatan, entahlah. Ada yang menyampaikan teori bahwa apa pun bencana alam yang terjadi, pasti juga ada kontribusi ulah manusia di situ sehingga hal itu terjadi. Tapi siang itu, melihat sekitar setengah kilometer di sisi kanan saya, di mana gelegak dan asap lumpur panas itu masih juga tak terkendali, bisa jadi itu memang sebuah ketidakseimbangan alam yang cepat atau lambat pasti akan terjadi. Kebetulan saja generasi kita saat ini ketiban kesempatan untuk mengalaminya.

Begitu luas sudah lumpur itu tertumpah dari perut bumi. Saya berdiri di salah satu tepi tanggul, mata saya yang memicing tak juga menemukan tepi tanggul di seberang sana. Yang tampak hanya hamparan abu-abu seolah tak bertepi, dengan menyembul di sana-sini beberapa pepohonan mati, antena, ujung atap rumah yang hampir tak kelihatan. Tampak juga beberapa kotak kontainer yang terapung setengah tenggelam.

Dan rumah sang bapak satpam ini ikut tertelan di dalamnya. Bersama seluruh hartanya, beserta seluruh jerih payahnya, dan mungkin terkubur bersama impiannya. Dan si bapak ini masih merasa bersyukur?

Kebetulan saya ingat ada sebuah cerita. Tentang seorang pedagang kaya. Dikenal dengan sebutan pak Haji. Dia memang memulai usahanya dari benar-benar kecil tanpa modal, sampai kemudian dia mampu memiliki beberapa toko grosir sekaligus. Ada salah satu kegemarannya, mungkin berkaitan dengan budaya di tempat asalnya yaitu seseorang akan dianggap kaya bila memang sudah mampu membeli tanah yang luas. Kepemilikan tanah adalah sebuah tolok ukur yang begitu bergengsi bagi dia. Sehingga setiap tabungannya selalu dibelikan tanah, sepetak demi sepetak.

Lebih dari tiga puluh tahun sudah dia berdagang, pun tanah yang dibelinya sudah demikian luas. Centang perentang di mana-mana, di wilayah kota, di desa, bila mendapati ada tanah dijual dan dia merasa cocok, dibelinya. Tapi tanah-tanah itu hanya dibiarkannya saja ditelantarkan, tapi jangankan ada orang yang diam-diam memanfaatkan lahannya, mereka yang minta ijin untuk mengelola tanah itu daripada nganggur pun, dengan tegas ditolaknya. Tanah-tanah itu cukup diberinya pagar sekeliling, dan diberi tulisan besar-besar, berbunyi TANAH MILIK…, namanya.

Terakhir, di usia senjanya, alih-alih bersyukur atas apa yang didapatnya, kesehariannya banyak diisi dengan pergi ke setiap tanah-tanah miliknya sambil mengajak teman-temannya. Di usia tuanya itu, di mana toko-tokonya sudah tertata manajemennya, dia lebih banyak waktu ke setiap tanah miliknya, sambil dengan bangga menunjuk papan nama tanah milik itu kepada teman-temannya. Tak ada salahnya memang, toh itu memang tanahnya. Pulang dari ibadah haji, tidak membuatnya merenung dan bersyukur, tapi sifat bangga berlebihan itu seolah semakin menjadi.

Bila ada yang tidak berkenan dihatinya, di depan tanahnya berdiri kaki lima, atau pagar tanahnya dicoret-coret orang, atau misal patok tanahnya tergeser dari tempatnya, buru-buru dia telepon para pembantunya, dan marah-marah.

Sampai kemudian suatu hari, dia terjatuh kelelahan di atas salah satu tanahnya sendiri. Penyakit jantung mendadak telah menjemput ajalnya. Kekayaan yang datang kepadanya, tidak membuatnya bersyukur, tapi membuatnya lupa dan dihinggapi rasa tamak beli tanah sana-sini, tidak dimanfaatkannya. Total bisa jadi berhektar-hektar. Di akhir hayatnya, tak lebih yang dibutuhkannya adalah tanah seluas dua kali satu.

Pak satpam, mungkin saat ini berada pada titik terendah dimana semua kenyamanannya terenggut tanpa dia tahu darimana harus memulainya lagi, tapi dia adalah orang yang sepertinya selalu bersyukur. Hitung-hitungan materi pastilah anda semua satu pendapat bahwa pak satpam bukanlah orang yang kaya secara materi. Tapi sikap optimis dan selalu bersyukur atas keadaannya sekarang, sudah cukup kiranya kita bisa mempredikatinya sebagai seorang yang kaya. Mungkin sekarang belum kaya materi, tapi dia sudah memiliki sebuah modal besar untuk menjadi kaya, yaitu bersyukur atas apa yang dimiliki saat ini.

Pak haji, anda bisa menilai bahwa dia memang kaya secara materi. Tapi ketika kekayaannya itu dihambur-hamburkan untuk sesuatu yang tidak perlu benar hanya demi sebuah harga diri? Disinilah mungkin kita bisa menilai bahwa dia jauh dari rasa bersyukur. Dan seorang yang kaya materi tanpa rasa syukur? Karena secara logika seseorang bisa disebut kaya bila dia mau dan mampu untuk selalu bersyukur.

Anda tidak percaya? Mari kita bedah sejenak pengertian ini. Seorang kaya, menurut saya adalah seseorang yang selalu dapat memenuhi segala keinginannya. Dan sebuah keinginan, kalau kita mau untuk merenung lebih jauh, tidak lebih dari sekedar pemenuhan atas sebuah kebutuhan. Contoh misalnya anda menginginkan makan di sebuah restoran mewah. Ada beberapa kemungkinan hakikat kebutuhan anda. Anda butuh ke situ karena memang lapar, anda butuh kesitu karena memang ingin merasakan menu di sana, atau anda butuh ke situ karena sebuah harga diri. Dan bila anda merenung lebih jauh, maka akan sampai pada pengertian bahwa semua pemenuhan kebutuhan itu bisa tercapai dengan tidak harus menginginkan makan di restoran mewah itu.

Nah, pada pengertian ini, artinya seseorang akan bisa memenuhi keinginannya tidak lebih dari apa yang dia butuhkan. Dan bagi saya sebutan untuk orang yang demikian adalah orang yang selalu bersyukur. Pengertian logisnya akan menjadi, bahwa seseorang baru bisa disebut kaya jika dan hanya jika dia mampu untuk selalu bersyukur. Saya yakin sebagian dari anda mungkin mengernyitkan dahi, tapi saya juga yakin sebagian lagi sependapat dengan saya.

Kagum saya terhadap pak satpam ternyata tidak hanya sampai di situ. Hampir satu jam saya melihat-lihat dari bibir tanggul lumpur itu. Pak satpam dengan sepenuh hati tanpa diminta menjelaskan semua hal atas apa yang dialaminya pada peristiwa tragedi lumpur itu. Dan ketika saya beranjak pulang dari situ. Ah,.. pak satpam itu masih juga melambaikan tangan dan menebarkan senyum…

Source: http://www.pitoyo.com – home improvement
bersama memberdayakan diri dan keluarga

Iklan