Saya terkadang bingung, jika suatu kali ada pembicaraan yang kemudian menjurus kepada hakikat arti sebuah kata ‘kaya’. Seperti yang beberapa waktu lalu, ada orang yang berkata kepada saya di tengah sebuah perhelatan mewah sebuah pesta. Orang ini berkomentar terhadap sang empunya pesta. “Enak ya… jadi orang kaya…,” katanya. Bingung saya bukan kepada arti kata ‘kaya’ itu sendiri. Tapi kepada kita manusia yang sudah sekian ribu tahun generasi menghidupi dunia ini, masih menempelkan arti kata kaya kepada sesuatu yang bersifat materi saja.

Tapi mungkin ini bukan salah siapa-siapa. Mungkin juga dalam bidang bahasa, kaya memang dimaksudkan dengan arti demikian. Namun pertanyaan yang timbul kemudian adalah kenapa harus begitu? Apakah sebuah kekayaan—bila itu diartikan sebagai kepemilikan atas materi di atas rata-rata kebanyakan orang—begitu penting?

Mungkin anda akan menimpali dengan nada tinggi, bahwa jelas itu penting! Masuk sekolah harus pakai uang. Sakit, akan banyak kemungkinan sembuh bila kita punya uang. Dihargai dan dihormati orang sepertinya akan lebih mudah bila punya uang. Menjalani hidup tampak begitu enak bila punya uang—seperti komentar kenalan saya di depan tulisan ini tadi.

Lalu kenapa demikian?

Marilah sejenak kita menerawang sebuah imajinasi masa lampau. Dahulu sekali orang sepertinya tidak butuh itu yang namanya embel-embel kaya. Dahulu sekali yang terpikir hanyalah bagaimana untuk bertahan hidup, karena demikianlah nalurinya. Dahulu sekali orang hidup berpindah-pindah, berburu, meramu, kemudian berternak dan berladang, adalah hanya untuk bertahan.

Sampai kemudian ketika mereka bisa hidup dalam suatu daerah tanpa berpindah-pindah lagi, jadilah mereka membentuk sebuah komunitas yang semakin generasi ke generasi semakin besar. Mereka berinteraksi satu sama lain, mereka menyempurnakan komunikasi verbal bahas mereka, mereka bersosial, mereka berkumpul, bermasyarakat, menggagas kehidupan. Sehingga pemikiran akan bertahan, yang semula hanya sekedar ‘bertahan’ hidup, menjadi lebih meningkat dengan ‘bertahan’ terhadap eksistensi kehidupan mereka.

Jadilah mereka berusaha mendefinisikan sebuah kebutuhan, sadar bahwa manusia saling membutuhkan, membentuk jalinan komunitas formal dari sebuah desa sampai apa yang disebut sebagai negara. Membuat aturan-aturan.

Di sinilah kemudian, sepertinya orang mulai mengenal apa yang saya sebut sebagai konsep berpikir secara ekonomi. Ketika orang sadar bahwa di antara mereka saling bergantung satu sama lain. Setiap orang kemudian memikirkan apa yang dibutuhkan orang. Membuatnya dan menukarnya dengan individu lain untuk memenuhi kebutuhan masing-masing individu itu. Sehingga berkembang apa yang disebut pedagangan. Sampai muncul ide akan alat tukar yang bernama uang.

Semakin lama semakin berkembang. Ada orang yang bisa begitu kreatif dan jeli menyediakan kebutuhan orang lain sehingga bisa dengan mudah mengumpulkan lebih banyak uang. Sementara sebagian lain, merasa sudah bersusah payah tapi uang yang didapat selalu dianggap kurang. Ada yang secara kemampuan bisa mendapatkan banyak uang, tapi dia hanya mengambil sekedar apa yang dia butuhkan. Ada yang saking penginnya punya banyak uang tapi tidak memiliki kemampuan untuk mendapatkannya, memaksa orang lain untuk menyerahkan uang.

Tapi kemudian dalam perkembangannya, entah bagaimana bisa terjadi demikian, orang-orang bisa begitu mendewakan uang. Mayoritas dari kita menganggap memiliki uang begitu membahagiakan, karena dianggap dapat membeli apa saja. Membuat orang mengesampingkan hal lain-lain. Kepercayaan antara kita sebagai manusia menjadi luntur. Harga diri terkadang dikorbankan demi uang. Etika tidak lagi dianggap penting daripada uang.

Ada sebuah cerita suatu ketika ada seseorang tergopoh-gopoh membawa saudaranya yang kesakitan ke sebuah Rumah Sakit mewah kelas satu. Karena buru-buru, mereka memakai pakaian seadanya. Sendal jepit, kaos oblong lusuh, muka awut-awutan. Di resepsionis, bukannya fokus kepada melayani si sakit dahulu, pihak Rumah sakit merasa lebih penting untuk menanyakan jaminan bahwa setelah pengobatan, si pasien akan membayar semua biaya. Cukup lama sang pengantar meyakinkan kepada rumah sakit bahwa si sakit adalah seorang kaya terpandang di sebuah desa. Rumah sakit bisa diyakinkan, tapi itupun dengan cara bahwa sang pengantar harus meninggalkan KTP asli di resepsionis

Semua orang sedih melihat contoh kejadian di atas. Saya yakin banyak contoh kejadian serupa yang membuat kita harus trenyuh mengelus dada. Tapi semua orang merasa tidak ada yang bisa dilakukan. Begitulah kehidupan menurut kita. Sehingga semakin lama orang semakin terjebak kepada untuk bertahan harus punya uang, yang banyak, bagaimana pun caranya. Ada yang korupsi, ada yang menjual diri, ada yang memakan teman sendiri, bahkan saudara sendiri.

Banyak orang yang berteriak-teriak bahwa uang bukanlah segalanya. Tapi semakin lama semakin terasa bahwa teriakan-teriakan ini seperti sebuah teriakan di tengah keriuhan. Tak ada yang peduli, dan kalau pun ada yang mendengar, dianggap hanya sebuah nasihat klise untuk berbasa-basi mengungkap sebuah kata bijak.

Dan akhirnya,.. sebagian dari kita menganggap bahwa banyak uang itu enak. Kata ‘kaya’, yang kemudian dikonotasikan sebagai ‘banyak uang’ dianggap sebagai sesuatu yang indah dan membahagiakan. Membuat segalanya menjadi mudah.

Untuk mengubah itu semua, bagaimana kalau kita mereformasi istilah kaya. Saya akan teriakan kepada Anda, bahwa kaya itu berarti hidup sederhana, bahwa kaya itu bermakna menginginkan sesuatu tidak lebih atas apa yang kita butuhkan. Karena di dalam kehidupan kita yang hanya sebentar ini, kaya wawasan, kaya pemikiran, kaya kebijaksanaan, kaya hati, jauh lebih memberikan makna dari pada hanya sekedar kaya uang.

Sesuatu yang melegakan hati. Beberapa minggu lalu, saya berkesempatan mengunjungi sebuah pabrik percetakan besar di kota Kudus. Sebuah pabrik yang luar biasa! Sebuah pabrik yang hanya mungkin terjadi karena komitmen kerja keras. Dan memang etos kerja keras dan perbaikan terus menerus itu bisa dirasakan sampai kepada karyawan di tingkat bawah. Yang melegakan hati adalah, di mana-mana terdapat spanduk besar-besar yang mengingatkan setiap pembacanya untuk hidup sederhana! Sebuah komitmen dari manajemen mereka, yang seolah mensyaratkan bahwa kaya uang bukanlah segalanya.

Tapi secuil kelegaan hati itu, ternyata masih juga belum membuat benar-benar lega. Ketika saya masih juga mendapati banyak orang di sekitar saya yang memaksa dirinya bergaya hidup mewah, kemana-mana naik taksi sementara anaknya di rumah tidak begitu terperhatikan pola makannya. Ada lagi seorang ibu-ibu ekonomi menengah yang berbulan-bulan menabung hanya untuk kemudian dipakai mengecat rambutnya, sementara saya mendengar di saat yang sama sang ibu itu juga menumpuk hutang di sebuah warung belanjaan di dekat rumahnya.

Mereka seperti melakukan apa saja untuk menjadi kaya uang. Kalau menjadi kaya uang begitu susah untuk dicapai, mereka kemudian berusaha untuk bertingkah laku agar semua orang melihat bahwa dia kaya uang.

Ada suatu masa di jaman dahulu bahwa orang dihargai karena memiliki kekuatan, begitu kata seorang bijak kepada saya suatu kali. Dia pun meneruskan bahwa kemudian masa itu berubah bahwa orang kemudian dihargai karena memiliki kedudukannya (raja, pangeran, tokoh agama). Sampai kemudian datang masa orang dihargai karena kekayaannya (baca: materinya). Seharusnyalah kemudian tumbuh menjadi orang dihargai karena pengetahuannya (ilmu, wawasan, keterampilan). Untuk kemudian manusia belajar sampai kepada masa orang dihargai karena kebijaksanannya. Kapan itu? Entahlah. Dibutuhkan sebuah perubahan untuk menuju ke sana.

Tidak ada jalan lain untuk merubah itu semua kecuali dengan merubah paradigma mereka bahwa kaya adalah berarti hidup sederhana

Iklan