“Mas, sampeyan mau nggak, saya kasih modal untuk bantu saya jual barang…?” tiba-tiba teman saya, yang saat itu duduk di sebelah saya ini—sebut saja namanya Pak Parjo—memberi tawaran kepada seseorang yang menurut saya, Pak Parjo sendiri juga belum begitu mengenalnya. Siang itu saya melewatkan makan siang dengan Pak Parjo, yang kebetulan saat ini masih juga berstatus karyawan di tempat saya bekerja. Hanya saja ada yang menarik dari Pak Parjo ini. Walaupun dia berstatus karyawan—yang menurut saya juga berpenghasilan lebih dari cukup—tapi dia selalu bekerja sama dengan istrinya untuk memanfaatkan waktu di luar jam kerjanya. Ia selalu saja mencari hal-hal yang bisa dilakukan untuk berkarya, dan memberikan penghasilan tambahan. Untuk apa? Orang sudah berkecukupan kok masih saja merasa kurang? Hmm, mari kita dengar apa sih misinya, mimpinya yang pernah diceritakan kepada saya. Pak Parjo ini, setiap kali ada kesempatan ngobrol dengan saya, hampir setiap kali yang dibicarakan adalah tentang konsepnya Cashflow Quadrant-nya Robert T Kiyosaki. Tentunya dalam kacamata dan bahasanya. Dia selalu bermimpi untuk mengembangkan dirinya seperti alur yang ditawarkan Kiyosaki. Saat ini masih pada employee, mulai mengembangkan dirinya pada self-employed dan bussiness owner (walaupun masih skala kecil) untuk kemudian mencapai kebebasan finansial pada kuadran seorang investor. Sudah lebih dari lima tahun dia menekuni sesuatu yang dia bisa lakukan selain profesinya di tempat dia bekerja. Secara sekilas apa yang dilakukannya seperti serabutan, sambar sana sambar sini. Hanya saja, kalau kita mengenal dia lebih dekat dan mendengar apa yang menjadi visinya, kita akan dapat melihat bahwa apa yang dilakukannya adalah sebuah perjalanan dari mimpinya. Bangunan dari konsep cara berpikir yang memang terpola, dan kebanyakan dari itu memang tercerahkan dari apa yang menjadi pengalaman dan pemikiran Kiyosaki. Lebih dari lima tahun dia melakukan—yang sepertinya ‘apa saja’—dari busines ternak, perkebunan, jual beli properti, buka bengkel, toko onderdil mobil dan motor, sampai yang terakhir dia begitu antusias bergabung pada salah satu produk Multi Level Marketing. Dari yang diceritakan kepada saya, uang dari penghasilannya sebagai karyawan hanya dipakai secukupnya bagi kebutuhan keseharian. Sisanya ‘diputar’ sedemikian rupa untuk melangkahi ‘jalan’ menuju mimpinya. Dan, dia tidak segan-segan untuk melangkahi jalan kehidupannya—yang disebutnya sebagai proses metamorfosis—untuk membawa proses perubahan pada dirinya. Dari semula ‘sekadar’ employee kemudian kepada self-employed sebagai agen independen jual beli properti. Sampai kemudian pada tataran bussines-owner sebagai pemilik peternakan, pemilik kebun, dan pemilik toko onderdil. Pada tahapan awal dia menekuni Multi Level Marketing pun, kalau dari apa yang diceritakannya, dia masih merasa pada tahapan antara self-employed dan bussiness-owner. Dan dengan berjalannya waktu, ketika dia dengan tekun merekrut para downline, melatihnya, memberikan tips dan strategi yang tepat, membantu memberikan fasilitas-fasilitas yang diperlukan untuk melakukan presentasi produk. Sudah berjalan kira-kira satu tahun, yang tampak oleh mata saya adalah, pelan-pelan dia seperti memasuki fase investor. Di mana salah satu investasi yang dilakukannya selama ini adalah meluangkan begitu banyak sumberdayanya untuk melakukan pemberdayaan orang-orang yang bersedia menjadi downline-nya. Dan ‘buah’ itu mulai dipetiknya. Saya tidak tahu pasti apakah ini yang disebut sebagai ‘kebebasan finansial’ atau bukan, tapi yang jelas Pak Parjo selalu bercerita bahwa saat ini para downline yang berjumlah belasan sudah bisa ‘jalan’ sendiri. Pak Parjo tidak perlu lagi melakukan leadership seperti dulu lagi kepada mereka. Dia cukup sekali-kali mengawasi ‘dari jauh’ apa yang mereka lakukan. Tapi, uang masuk yang mengalir dirasakannya semakin besar. ia masih saja dalam keseharian seperti biasanya, memakai pakaian sederhana, berpenampilan sederhana, keluarganya juga tetap terlihat tampil sederhana. Dari kesimpulan cerita-ceritanya kepada saya, sulit dibayangkan kalau Pak Parjo ini memiliki aset yang kira-kira mungkin sudah menembus angka ‘M’. Apakah dia termasuk orang kaya, silahkan anda yang menilai. Tapi yang jelas dia masih muda, dan apa yang diperoleh saat ini saya yakin tidak berhenti sampai seperti ini saja, tapi akan terus tumbuh, bahkan cenderung kenaikannya bersifat eksponensial. Karena dia tidak berhenti sampai di situ, pemasukannya masih selalu saja ‘diputar’ untuk menciptakan peluang-peluang baru. Salah satunya adalah yang dilakukannya siang itu pada orang yang baru saja dia kenal. Dia tidak henti-hentinya memberi kesempatan kepada orang lain, terutama yang dilihatnya memiliki motivasi untuk bekerja keras dan masih pada golongan ekonomi lemah. Kemudian, Pak Parjo mengaplikasikan mereka untuk menjadi downline-nya. Jangan salah, karena biaya aplikasi dan pembelian produk di awal sebagai syarat menjadi downline, ternyata justru ditanggung oleh Pak Parjo sendiri. Kemudian orang ini dilatih cara-cara memberikan presentasi, diberi bahan-bahan presentasi, dibiayai untuk sewa tempat presentasi yang cukup representatif tergantung audiens yang diundang. Pak Parjo juga tidak segan meminjamkan kendaraanya kepada para downline-nya untuk dipakai secara operasional seperti melakukan presentasi, mengirim barang dan sebagainya. Contoh seperti Pak Parjo inilah yang saya sebut sebagai orang yang selalu berusaha “menggapai langit tertinggi, sambil selalu memastikan bahwa kakinya masih menginjak bumi”. Ya.., berusaha menggapai langit, dalam artian dia selalu saja bermimpi, selalu saja melakukan sesuatu, menciptakan jalan, untuk mewujudkan mimpinya, selalu saja menciptakan mimpi-mimpi baru. Dia bisa saja memilih untuk ‘berhenti’ sampai tahap employee, karena toh pada tahap ini pun sudah mendapatkan pemasukan yang cukup untuk menjalani hidup secara mewah. Tapi tidak, tanpa mempengaruhi sedikit pun tanggung jawabnya di tempat dia bekerja sebagai employee, dia selalu mengasah dirinya, memberikan pemberdayaan pada dirinya sendiri, untuk membangun visi dan mimpi. Sambil terus-menerus meyakinkan dirinya bahwa dia bisa dan mampu untuk lebih dari itu. Itulah yang saya anggap sebagai menggapai langit tertinggi. Dan sambil begitu, dia tidak ingin menikmati ‘perjalanannya menjadi kaya’ sendirian. Pak Parjo selalu melihat di sekelilingnya, melihat ke bawah, melihat kira-kira siapa saja yang juga harus diajaknya untuk bermimpi dan dibantu mewujudkan mimpi-mimpinya. Itulah yang saya gambarkan sebagai ‘selalu memastikan bahwa kakinya menginjak bumi’. Bisa jadi anda tidak setuju dengan saya, kalau Pak Parjo ini bisa dipredikati sebagai orang kaya. Tapi coba anda lihat orang-orang di sekitar anda, yang mungkin apa yang dia tempuh kurang lebih seperti apa yang ditempuh oleh Pak Parjo ini. Saya yakin orang-orang di sekitar anda ini adalah orang yang selalu bermimpi, dan secara bersamaan selalu melihat orang-orang di sekelilingnya, terutama di lingkungannya. Orang yang menurut saya tidak hanya kaya secara finansial, tapi juga kaya hati, kaya pikiran. Sesuatu yang saya anggap sebagai orang yang lengkap kayanya. Dan saya yakin orang seperti Pak Parjo ini, di ujung atas apa yang dilakukannya sekarang, yaitu ‘buah’ yang akan dipetiknya nanti, dia akan menjadi seorang yang lengkap kayanya. Dan inilah mungkin yang disebut sebagai kebebasan finansial yang sesungguhnya…

source: http://www.pitoyo.com

Iklan