“Bagaimana mungkin melakukan kebiasaan bersepeda ke kantor, bisa dihubungkan dengan sikap mengerti dahulu?” sebuah pertanyaan muncul di e-mail ditujukan ke saya mengomentari artikel saya sebelumnya.

Susah juga memberikan sebuah jawaban yang tepat atas pertanyaan tersebut. Sebuah pertanyaan bagus, apa adanya, dan langsung memberikan sebuah rangsangan berpikir yang ingin sekali untuk menggalinya lebih dalam lagi. Bagaimana mungkin sesuatu yang mungkin sederhana (memutuskan untuk bersepeda ke kantor) bisa dihubungkan dengan sesuatu konsep berpikirnya Stephen Covey “Seek First to Understand…”

Saya merasa sebuah keputusan yang juga tidak sederhana bagi mereka yang mampu berkendara mobil ke kantor kemudian memutuskan bersepeda. Apalagi bagi mereka yang telah menduduki jabatan tertentu di kantor itu, di mana jabatan tersebut bisa merepresentasikan gengsi perusahaan. Difasilitasi mobil perusahaan untuk memberikan kesan bagi siapa pun yang melihatnya, bagaimana perusahaan tersebut memberikan sesuatu yang pantas bagi karyawannya. Karena hal ini secara tidak langsung dapat mendongkrak gengsi dan popularitas perusahaan tersebut.

Tapi ternyata ada sebagian—walaupun masih—kecil dari mereka yang memilih meninggalkan mobil kantor tersebut di kantor, lebih memilih pagi-pagi bersepeda dari rumah ke kantor, mandi di kantor, ganti dengan pakaian kantor. Dan biarlah sesekali bila memang pada jam kantor butuh keluar sebagai representasi dari perusahaan tersebut, dia menggunakan mobil kantor. Tapi di sore hari, kembali dia mengganti baju dengan pakaian olahraga, sepatu karet, kemudian menempuh bersepeda kembali ke rumah.

Alasan paling populer dari mereka adalah ingin sekaligus berolah-raga dan menghindari kemacetan pagi dan sore hari.

Alasan olahraga yang mereka kemukakan adalah bentuk ‘seek first to understand’ terhadap kesehatan tubuh mereka sendiri. Coba mari kita lihat kehidupan sekarang ini yang tampak semakin lama semakin mudah. Ingin menghubungi teman tinggal pencet telepon, ingin mengunjungi tetangga beberapa blok dari rumah, naik motor. Kemudahan ini semakin lama sepertinya memberikan efek bagi kita untuk ‘malas bergerak’. Padahal gerakan tubuh, otot, tulang, adalah sebuah hal yang sangat penting bagi metabolisme dan kelancaran peredaran darah ke seluruh tubuh.

Belum lagi kebiasaan makan dari makanan yang selalu instan dan kurang memenuhi nilai gizi. Semua itu menjadikan sebuah pengertian seolah-olah kita berusaha memanjakan diri kita, tapi sebenarnya kita tidak berusaha mengerti apa yang sebenarnya tubuh kita butuhkan. Hanya sebagian dari kita yang mulai sadar dan mengerti apa yang tubuh kita sebenarnya butuhkan, butuh makanan sehat, butuh olahraga. Mereka yang melakukan olahraga bersepeda ke kantor terbukti berusaha untuk ‘mengerti dahulu’ kebutuhan tubuh mereka sebelum tubuh mereka memaksa memberikan ‘pengertian’, misalnya dengan timbulnya sakit.

Pendapat mereka dalam upaya menghindari kemacetan juga bentuk ‘seek first to understand’ yang lain. Sebagai contoh pernah saya baca sebuah penelitian ahli tata kota berpendapat mengenai Jakarta, dengan membandingkan laju pertumbuhan luas jalan, laju pertumbuhan kendaraan, dan laju kepedulian masyarakat terhadap pemakaian kendaraan umum. Hasil kesimpulan sang ahli adalah bahwa Jakarta akan dipenuhi kendaraan, berhenti, tidak bisa lagi bergerak, di seluruh jalan kota, menginjak tahun 2011! Nah!

Entah apakah para penggiat bersepeda itu, tahu tentang hal ini atau tidak, tapi yang jelas keputusan mereka bersepeda dengan salah satu alasan menghindari kemacetan, adalah wujud perilaku ‘mengerti dahulu’ sebelum ramalan sang ahli tata kota itu benar-benar terwujud. Ketika semangat untuk membatasi jumlah kendaraan di jalan raya, semangat untuk menggalakkan penggunaan angkutan umum, semangat untuk mengurangi kemacetan di jalan, semangat untuk mengurangi polusi udara kota besar itu begitu didengungkan, siapa yang akan memulainya? Bapak-bapak pejabatkah yang menggalakkan kampanye tersebut? Haruskan menunggu para voluntier untuk mencobanya, sehingga kita bisa saksikan keefektifannya?

Yang para penggiat bersepeda lakukan tidak menunggu itu semua, tidak menjadi penonton, tapi memilih untuk memulai melakukan sesuatu, dimulai dari ‘saya’, bersepeda adalah sesuatu yang menurut mereka berkontribusi mengurangi kemacetan, dan mereka lakukan! Sebuah sikap ‘mengerti dahulu’!

Tapi ada lagi satu hal selain alasan mereka, yang juga menurut saya penting. Sebuah sikap ‘seek first to understand’ yang mereka tunjukkan kepada generasi setelah mereka. Kepada generasi anak-anak mereka, bahkan kepada generasi yang saat ini belum ada. Puluhan, ratusan atau bahkan ribuan lagi generasi mendatang yang akan mendiami planet bumi ini sampai kiamat kelak datang.

Kita ambil contoh pada generasi anak-anak kita. Saat ini bisa kita bayangkan, terutama bagi mereka yang tinggal di kota-kota besar. Sejak sang bocah keluar rumah untuk bersekolah, berapa miligram polutan per menitnya harus mereka hirup dari udara dari asap kendaraan.

Saya sendiri sering melihat di kota tempat saya tinggal yang menurut ukuran sebuah wilayah kota masih belum tergolong padat, di mana setiap pagi anak-anak sekolah berjalan kaki dan bersepeda mempertaruhkan nyawanya di jalan raya, di antara para pengemudi angkutan umum yang melaju dengan kecepatan tinggi dan dengan perilaku yang sama sekali tidak menghargai pengguna jalan lainnya. Saya juga pernah melihat bagaimana seorang anak sekolah dasar berusaha sendiri untuk ‘berjuang’ menyeberang jalan raya, dan para pengguna berkendara di jalan itu tidak satu pun yang memulai untuk berhenti memberi jalan sang anak.

Apa yang mereka lakukan dengan bersepeda ke kantor seakan memberikan inisiasi bagi upaya untuk mengerti dahulu bagi generasi anak-anak kita dan sesudahnya. Yang mereka lakukan adalah wujud kesadaran. Mereka seolah tahu bahwa yang para anak-anak sekolah lakukan ketika berangkat kesekolah adalah ‘juga’ sebuah perjuangan yang patut dihargai. Lebih dari itu, akan kondisi buruk polusi udara akibat asap kendaraan, mereka seakan sadar bahwa harus ada sebuah tindakan nyata untuk memulai agar segalanya bisa menjadi lebih baik. Dan keputusan mereka bersepeda adalah sebuah keputusan akan ‘mengerti dahulu’ akan kebutuhan dan hak generasi mendatang. Kebutuhan dan hak generasi mendatang untuk hidup menghirup udara sehat, kebutuhan dan hak untuk mendapatkan contoh nyata adanya saling menghargai di jalan raya.

Tapi mungkin juga menghubung-hubungkan ‘bersepeda ke kantor’ dengan ‘mengerti dahulu’ bagi generasi mendatang, juga bisa jadi sesuatu yang terlalu dilebih-lebihkan. Dan tulisan saya ini pun juga mungkin belum bisa memberikan jawaban atas e-mail yang saya dapat.

Tapi paling tidak teman kita penggiat bersepeda sudah memulai sesuatu tindakan nyata untuk ‘seek first to understand’, sekarang apa tindakan nyata kita untuk ‘seek first to understand’? Karena sekecil apa pun saya yakin tetap akan berguna.

Source: http://www.pitoyo.com

Iklan