“Mas, sampeyan sebagai pemimpin harus mampu bersikap Principle Centered…” begitu kata salah seorang teman kepada saya suatu ketika. Berkata dengan begitu bersemangat. Hmm, principle centered? Apa itu? ”Berpusat kepada prinsip”!? Sesuatu yang membuat saya harus tercenung pagi itu. Terlepas dari teman saya ini tahu betul akan maksud ’Principle Centered’ seperti maunya Stephen Covey, bagaimana pun, teman saya ini telah memberikan nasihat yang begitu berharga. Apa itu prinsip? Adakah ’pusat-pusat’ lain selain prinsip? Sebuah pertanyaan yang tidak mudah untuk dijawab. Terus terang, ketika saya membaca bukunya Covey, adalah bagian ’Principle Centered’ inilah yang sepertinya paling lama membuat saya merenung. Baca seluruh bab, berhenti, malam hari merenung, besok hari baca lagi bab ini, merenung lagi, besoknya baca lagi. Saya punya seorang teman, hidup di Jakarta, dan bagi saya cukup menarik untuk sedikit diintip bagaimana dia menyikapi hidup ini. Teman ini secara ekonomi sudah sangat mapan. Mobil bagus, rumah mewah, usia kepala tiga, masih bisa dibilang muda, karir menanjak pesat. Seorang pria yang masih sendiri, bekerja berangkat pagi hari, dan pulang ke rumah ketika malam telah larut, karena toh tak ada siapa-siapa di rumahnya. Kadang mampir melewati hingar bingar dunia gemerlap kehidupan malam untuk sekedar melepas stress ketika kerja. Dan itu sudah dilakoninya selama lebih dari sepuluh tahun. Tampaknya bahagia. Dia orang yang kaya secara materi, saya yakin itu. Tapi benarkah dia bahagia? Baru-baru ini, saya berkesempatan ngobrol dengan dia. Sementara ini saya menyimpulkan dia sebagai seorang yang ’Money Centered’. Bagaimana bisa? Dan apa pula money centered itu. Untungnya dalam memahaminya, pendekatan yang dipakai Covey agak mudah dipahami dalam saya mencoba menempatkan stempel money centered ini pada dia. Dalam mengenalinya, pertama saya lihat pada ’rasa aman’ (security) baginya. Seorang money centered, ’rasa aman’-nya sangat ditentukan oleh berapa –atau seberapa banyak- materi yang saat ini dia miliki dan akan diperolehnya. Sungguh teman saya ini begitu kalutnya ketika mendapati –misalnya- dia hanya membawa sepuluh ribu dikantongnya. Dan dompetnya itu –yang berisi kartu kredit dan sebagainya- ketinggalan di rumah. Yang kedua adalah ’arah keputusan’ (guidance) yang selalu diambilnya adalah selalu dalam rangka untuk memperbanyak materi yang dia miliki. Ada orang datang kepadanya dan mengajak dia bekerjasama melakukan sesuatu. Pertama kali yang ditanyakannya, adalah ’apa untungnya buat saya?’. Kurang lebih mungkin demikian di benaknya. Ketiga adalah ’dasar pertimbangan’ (wisdom), dimana segala hal selalu dihubungkan dengan kondisi keuangan, kondisi ekonomi. Bahkan menilai seseorang selalu dilihat dari ’lensa’ penglihatan akan ’seberapa mampukah’ orang lain secara materi. Mungkin dia hanya akan bicara serius dengan orang yang juga seimbang ’kaya materi’-nya dengan dia. Kembali, karena ’arah keputusan’-nya membawa dia bahwa hal itu bisa jadi menguntungkan dia secara jangka panjang. Dan mungkin dia akan merasa terganggu bila ada orang tak berpunya datang –yang mungkin hanya sekedar mengajak bicara- kepadanya. Dan keempat, .. power!! Ah, ternyata susah juga menemukan terjemahan yang tepat. Power diartikan sebagai kemampuan dia memimpin atau mempengaruhi orang lain, selalu diupayakannya dengan cara memperlihatkan betapa kayanya dia. Agar orang menghormati dia, tak lupa kemanapun dia pergi, selalu membawa mobilnya yang memang tergolong mewah. Masuk toko pun, berusaha bersikap agar dia tampak kaya –walaupun memang kaya- oleh para penjaga toko. Itu salah satu contoh yang disebut money centered. Ternyata centered atau pusat-pusat lain tidak hanya itu. Sebut saja sikap berpusat lain yang disebut sebagai ’work centered’. Dari sisi security, mudahnya mungkin bisa diartikan bahwa orang ini akan merasa aman bila dia bekerja. Orang ini akan mudah merasa resah bila suatu ketika harus menunggu di ruang tunggu, atau tiba-tiba tidak ada yang bisa dilakukannya. Guidance baginya selalu ditujukan pada kebutuhan atau ’bagaimana baiknya’ sehingga dia dapat selalu bekerja. Sedang wisdom baginya selalu melihat dari sudut pandang aturan main dalam pekerjaannya. Bila dia pekerja kantoran atau pabrik, selalu melihat aturan perusahaan sebagai seolah referensi satu-satunya yang tidak bisa ditawar lagi. Bila dia seorang ahli hukum, kemanapun dia berada selalu membawa koridor undang-undang kepada siapa pun dia berbicara. Dan apa yang dilakukan atau yang dikatakannya adalah sebagai upaya perwujudan eksistensinya (power), selalu dengan pengungkapan semacam ’saya ini pekerja keras, lho’, atau mungkin, ’dikantor saya ini seorang pimpinan dengan ribuan anak buah….’ Semoga tergambar apa maksud ’centered’ atau ’pusat-pusat’ itu. Anda bisa lihat orang-orang di sekitar anda. Atau mungkin anda coba bercermin kepada diri anda sendiri. Dimanakah ’pusat-pusat’ itu. Dan ternyata definisi centered itu juga banyak. Yang lain, ada yang disebut ’spouse-centered’, pasangan anda adalah pusat itu. Ada juga yang disebut ’enemy-centered’. Musuh anda adalah pusat anda, lho, kok bisa. Bisa saja! Apa yang anda putuskan selalu mengambil pertimbangan ’kira-kira apa respon orang yang tidak saya sukai itu, terhadap keputusan saya ini?’ Dia hanya merasa aman, ketika ’orang yang tidak disukai (yang disebut sebagai enemy), tidak dalam jangkauannya. Atau kalau pun ada, ’musuh’-nya itu diyakini tidak berada dalam kemampuan untuk ’mengganggu’ rasa amannya. Ada lagi yang disebut sebagai pleasure-centered, pusatnya adalah sebuah kesenangan, hmm, seperti apa itu? Anda coba imajinasikan sendiri. Ada juga self-centered, ada possesion-centered dan mungkin juga ada banyak centered-centered yang lain. Anda bisa renungkan sendiri, menilai orang lain mungkin, atau berkaca pada diri sendiri. Dan jangan salah, tidak setiap orang selalu konsisten berada pada suatu pusat tertentu dan selalu berada disana setiap saat. Bisa jadi seseorang berada di possesion-centered suatu hari, dan hari berikutnya berada di money-centered. Ada satu lagi yang juga menarik, dan sepertinya bisa menjadi contoh, yaitu apa yang disebut sebagai value-centered. Rasa aman, pertimbangan dan sebagainya selalu dirujuk kepada nilai-nilai yang dianutnya. Tampaknya bagus, tapi tunggu! Apakah nilai-nilai yang dianut setiap orang itu pasti bagus. Selalu memegang teguh nilai, adalah seseorang yang proaktif, pun value-centered. Tapi kemudian masih tersisa pertanyaan, bahwa mungkin saja nilai seseorang tidak selaras dengan nilai-nilai universal yang seharusnya dipahami oleh setiap orang. Hitler mungkin seorang yang value-centered. Sadam Hussein juga bisa jadi value-centered. Mereka selalu memegang teguh nilai-nilai yang mereka anut. Dan apapun tindakan, dasar pertimbangan, dan keputusan mereka selalu merujuk kepada nilai-nilai yang mereka anut. Benar value-centered, tapi apakah anda bisa menilai terhadap apa yang dilakukannya sebagai sesuatu yang baik? Nah! Saatnya kembali ke.. laptop! (dengan gaya ala Tukul Arwana). Saya membuka istilah dengan principle-centered. Kemudian saya coba ngalor-ngidul, sekedar untuk mencoba membawa anda kepada maksud utama terhadap apa yang saya ingin sampaikan. Principle, ..adalah hukum alam. Apa itu hukum alam, tidak mudah saya menjelaskan, karena toh bisa juga penjelasan saya tidak seluruhnya benar. Saya hanya bisa katakan hukum alam adalah hukum alam. Mungkin boleh disebut nilai-nilai universal. Air selalu jatuh ke bawah. Kalau anda suka berbohong, cepat atau lambat orang akan tidak percaya kepada anda. Suatu saat, semua yang dilahirkan pasti mati. Segalanya selalu berubah, tidak ada yang benar-benar tetap dalam dua kurun waktu yang berbeda. Itu mungkin yang bisa coba saya contohkan sebagai principle, ..hukum alam! Lalu apa hubungannya dengan kaya? Seorang yang principle-centered, mungkin tidak akan bisa dijamin dia akan pasti menjadi kaya materi. Demikian pula sebaliknya, seorang yang kaya, tidak selalu bisa memimpin dirinya sehingga ber-principle-centered. Tapi coba anda bayangkan suatu saat anda seorang yang kaya, tetapi kebingungan dan sangat merasa resah ketika di perjalanan sadar, lupa membawa dompet. Anda bayangkan, berkecukupan materi, tapi menjadi pikun dan seperti kehilangan pegangan ketika anda harus pensiun dari pekerjaan anda. Atau anda memiliki uang berlimpah, tapi selalu diperbudak oleh kesenangan anda. Seperti inikah kaya bagi anda? Atau logikanya kita balik, masihkah bisa anda merasa kaya –walaupun anda misalnya memang kaya- ketika anda berlaku dengan centered-centered seperti contoh di atas? Tukul Arwana, lebih dari duapuluh tahun dia berjuang pada situasi yang bagi sebagian orang dianggap sebagai keadaan yang memprihatinkan. Saat ini, dia mulai memetik buahnya ketika acara talkshow-nya melangit rating-nya. Pasti anda setuju kalau kita katakan bahwa dia sekarang sudah kaya. Tapi kepolosan, kesederhanaannya, selalu membawa kepada orang yang meminta kesannya, dengan ungkapan klasik yang selalu diucapnya, yaitu ’ojo lali..’ (jangan lupa). Bisa jadi itulah value centered-nya. Atau bahkan principle-centered baginya.., agar apa yang diperolehnya tidak membuatnya menjadi lupa….

source: www. pitoyo.com

Iklan