Kemenangan Indonesia 2 – 1 atas Malaysia tadi malam ternyata tidak cukup untuk membawa Indonesia menjadi juara AFF tahun ini. Akibat kalah aggregat jumlah gol 4 – 2 lagi-lagi Indonesia hanya menambah koleksi posisi runner up, melengkapi hasil di tahun 2000, 2002, dan 2004. Namun, walaupun begitu, timnas kita sangat berjasa untuk menimbulkan lagi semangat nasionalisme bangsa ini. Meskipun kalah, ternyata bangsa ini tetap bangga terhadap perjuangan yang ditunjukkan oleh timnasnya. Selama 2 x 45 menit, timnas kita menunjukkan bahwa mereka saat ini telah berbeda. Timnas yang saya kenal dulu adalah timnas yang belum bisa membedakan mana bermain bola dengan karate. Timnas yang saya kenal dulu adalah timnas yang loyo dan letoy setelah mengetahui bahwa waktu tinggal 20 menit lagi dan mereka masih tertinggal 2 gol. Mereka sudah merasa kalah di saat-saat di mana mereka seharusnya masih bisa mengejar ketertinggalannya. Timnas yang kali ini dipegang Alfred Riedl sungguh bukan timnas seperti yang dulu. Berbekal semangat juang yang tinggi, mereka terus berlari dan mengejar ketertinggalannya. Mereka terus berlari bak kesetanan mengejar gol. Menyaksikan pertandingan kemarin, saya bahkan seolah-olah melihat tim Inggris sedang bermain. Keep on fighting until the last moment. Saya bahkan teringat di saat Manchester United mengalahkan Bayern Muenchen di tahun 1999, di mana mereka mampu mencetak 2 gol di saat injury time. Namun yang patut dihargai di sini adalah semangat juang yang mereka tunjukkan bukanlah semangat juang brutal yang tidak menggunakan perhitungan. Permainan cantik, serta taktik terus mereka jaga, sehingga permainan tidak seperti permainan bola arkam (antar kampung). Semangat bergelora tersebut juga tidak menjadi energi lepas yang brutal yang dulunya digambarkan dengan permainan kasar. Melihat mutu timnas kemarin dengan gaya permainan kemarin, saya melihat sebenarnya timnas kita memiliki modal yang kuat untuk juara. Menurut saya, faktor yang membuat suatu tim menggapai kemenangan adalah kombinasi dari strategi, semangat (baca: implementasi) dan keberuntungan. Mari kita lihat lagi ketiga faktor di atas dengan permainan kemarin. Timnas kita menggunakan formasi 4 – 4 – 2 dengan Christian Gonzales dan Irfan Bachdim sebagai ujung tombak. Tim Malaysia sudah menyadari bahwa Christian Gonzales adalah penyerang yang berbahaya, sehingga terus dijaga pergerakannya. Dengan dimotori oleh Firman Utina, berbagai serangan terus dilancarkan baik dari depan, sisi kanan, maupun sisi kiri. Lebih dari 5 peluang gol saya catat berhasil diciptakan, termasuk satu pinalty yang gagal dieksekusi oleh Firman Utina. Secara strategy dan taktik, timnas kita sudah menggunakan berbagai cara, namun hanya berhasil mencetak 2 gol dari sekian banyak peluang yang diciptakannya. Semangat? Jangan tanya, kita sudah membahasnya di atas. Faktor yang ternyata mempengaruhi adalah menurut saya keberuntungan. Beberapa peluang yang tercipta yang seharusnya berbuah gol, ternyata harus mentah di tangan kiper Malaysia. Selalu ada saja yang mempengaruhi kenapa timnas kita hanya membuahkan 2 gol dari sekian banyak peluang. Tulisan saya ini bukan untuk mencari alasan, mengapa kita bisa menang (baca: sukses) atau kalah. Intinya adalah, hasil yang kita capai sesungguhnya merupakan izin dari Yang Maha Kuasa, apakah Beliau memberikan keberuntungan atau tidak. Dengan mengetahui bahwa akhirnya selalu ditentukan-Nya, apakah ini berarti kita lebih baik berhenti berencana dan berusaha? Ingat bahwa manusia adalah makhluk yang memiliki derajat tertinggi di atas makhluk lainnya. Tuhan juga tidak serta merta menilai kita dari hasil yang kita peroleh. Sesungguhnya yang Tuhan nilai adalah upaya yang kita lakukan. Sebagai manusia juga, kita harus mendapatkan pelajaran berharga dari upaya yang telah kita lakukan, apapun hasil akhirnya. Aa Gym di salah satu ceramahnya pernah memberikan insight yang berharga: “tugas kita di dunia ini hanya berdoa dan ikhtiar, hasilnya kita serahkan kepada Allah saja”. Kalau menurut bahasa saya, tugas kita adalah berencana, berusaha, berdoa, ikhlas dengan semua hasil akhirnya, dan mengambil pelajaran berharga dari semua proses dan hasilnya untuk menjadikan diri kita lebih baik di masa mendatang. Kembali ke timnas kita yang kemarin mencetak kemenangan namun tidak berhasil merebut piala AFF tahun ini. Walaupun mereka tidak menjadi juara, namun mereka telah meraih satu kemenangan yang jauh lebih berharga, yaitu hati para supporternya. Bangsa Indonesia walaupun tidak berhasil memegang piala AFF, tapi bangsa ini telah tumbuh kembali rasa nasionalismenya. Dari sini kita semua belajar dan melihat bahwa bangsa ini telah melalui titik baliknya. Bangsa ini sudah siap untuk maju. Bangsa ini adalah bangsa yang beradab yang tetap tegak kepalanya walaupun mengalami kekalahan. Saya yakin, Insya Allah, bangsa ini akan merasakan masa jayanya di masa yang akan datang.

Iklan