Seorang sahabat pernah berseloroh, “enak ya si anu, liburan jalan-jalan ke luar negeri sekarang”. Saat itu kami sedang “jalan-jalan” menuju toko kamera di saat jam kerja, menjelang akhir tahun, di mana rekan-rekan kerja (termasuk bos) sedang cuti dan liburan. Kami berdua hanya segelintir karyawan yang tersisa. Kawan saya tersebut akan berangkat ke Bali sore itu. Sementara saya, tidak bisa cuti karena kebetulan istri saya bekerja di bagian finance yang kebetluan akhir tahun adalah saat-saat tersibuknya.
Saat itu kami sedang berjalan menuju toko kamera, di mana kawan saya meminta asistensi saya untuk membeli seperangkat DSLR karena dia merasa masih sangat hijau di dunia fotografi.
Sepulang membeli kamera, dia berterima kasih karena di toko tersebut dia hampir saja mengeluarkan uang lebih untuk item2 tidak penting karena penjaga toko menyodorkan item2 yang dianggapnya perlu untuk dibeli. Dengan saran2 saya, kawan saya tersebut akhirnya membeli item2 la inny a yang lLlLlLlL memang seharusnya dibeli.
Merasa sudah mendapatkan barang dengan “best bargain”, kawan saya ini berujar, “biasanya gua selalu cek lagi di tempat lain, harganya lebih murah nggak.” Perilakunya itu sering membuatnya menyesal. Padahal, prinsip utama setelah belanja adalah: stop comparing.
Akhirnya dia pun bercerita bahwa di masa kecilnya, dia selalu menjadi juara kelas. Bapaknya selalu memberikan prioritas baginya untuk memilih mainan terlebih dahulu dibanding kakaknya. Namun, selalu dia merasa bahwa pilihannya selalu salah, dan pilihan kakaknya selalu lebih keren.
Inilah yang membuatnya “tidak bahagia”, karena apapun pilihannya, dia selalu membandingkannya dengan milik orang lain, dan entah kenapa slalu menganggap pilihan orang lain lebih tepat daripada pilihannya. Ternyata, salah satu faktor ketidakbahagiannya adalah akibat ketidakpercayaan dirinya. Karena nggak PD, dia membandingkan dirinya dengan orang lain dan merasa orang lain lebih baik.
Di tulisan2 orang bijak, selalu dinyatakan bahwa kunci kebahagiaan adalah tidak menyesali masa lalu, tidak menkhawatirkan masa depan, dan mensyukuri masa kini. Kalau menurut saya, intinya justru pada kepercayaan diri. Jika kita PD, maka kita tidak akan menyesali masalalu kita. Jika kita PD, kita akan PD menghadapi masa depan kita. Jika kita PD kita pasti akan mensyukuri kekinian. Apapun yang terjadi dan dimiliki saat ini. Ada satu lagu yang sangat inspiratif, dan menggugah ke-PD-an agar kita bahagia, yaitu lagu “greatest love of all”.
learning to love yourself
It is the greatest love of all

Mulai sekarang, mari kita pupuk PD kita, supaya kita bisa berbahagia, dengan tidak menyesali masa lalu, khawatir masa depan. Dan yg terpenting adalah kita dapat mensyukuri diri kita saat ini.

Iklan