Khotbah Jumat kali ini sangat menyentuh. Sang Ustad membuka ceramahnya dengan menceritakan sebuah cerita nyata akan keajaiban Infaq. Alkisah, seseorang didatangi oleh tetangganya yang sedang membutuhkan uang untuk pengobatan anaknya yang sedang sakit. Orang tersebut sesungguhnya hanya memiliki uang yang hanya cukup untuk ongkos satu minggu saja. Tapi orang tersebut memberikan uang seratus ribu terakhir dan satu-satunya tersebut kepada tetangganya. Uang tersebut bukanlah pinjaman, pokoknya orang tersebut memberikan uang tanpa meminta pengembalian. Untuk kebutuhan seminggu terakhir, orang tersebut meminjam kepada temannya yang lain.
Keajaiban muncul dua minggu setelah peristiwa tersebut. Sang istri melaporkan adanya kejanggalan pada dirinya. Sesungguhnya istrinya sedang mengidap penyakit kangker payudara dan harus dioperasi. Kejanggalannya adalah, dia tidak merasakan sakit apa2 lagi. Setelah dicek ke dokter, ternyata penyakitnya sembuh total! Dokter pun terheran2, sampai bertanya kepada orang tersebut, dikasih obat apa istrinya?
Inilah salah satu contoh keajaiban dari infaq. Allah tidak pernah ingkar janji kepada kaumnya, bahwa Allah akan membalas berlipat2 kebaikan yang kita berikan. Orang yang diceritakan di atas adalah seorang supir di bank Muamalat yang gajinya sebulan tidak sampai 2 juta rupiah. Uang seratus ribu adalah uang yang sangat besar baginya. Namun dengan ketulusan dan keikhlasan, dia memberikannya kepada orang yang membutuhkannya. Dan Allah menunjukkan kekuasaannya dengan membalasnya secara kontan.
Di dalam ceramah, sang Ustad menekankan bahwa amalan tidak akan berbuah kebaikan apabila yang kita berikan bukanlah hal yang kita sukai. Jika kita hanya menginfaq-kan dengan harta hasil “sisihan”, itu tidak akan berbuah kebaikan. Yang benar adalah, kita utamakan zakat, infaq terlebih dahulu, baru kemudian untuk kebutuhan kita. Inilah yang akan berbuah kebaikan, dan akan mendapatkan pembalasan berlipat ganda dari Allah.
Satu point penting lagi adalah keikhlasan dan ketulusan. Dalam cerita di atas, orang tersebut tidak mengaharapkan imbalan apapun baik dari tetangganya maupun dari Allah. Itulah Ikhlas yang sejati, bahkan yang diberikannya tidak mengharap balasan dari Allah. Untuk masalah ini, saya 1000% setuju. Saya agak kurang setuju dengan konsep hitung2an infaq yang sempat pernah ramai beberapa waktu yang lalu. Jika amalan kita didasari matematika dan berharap imbalan dunia, khawatirnya kita hanya akan mendapatkan balasan di dunia saja. Padahal kan kita hidup abadi justru setelah kehidupan di dunia saja kan?
Setelah menyadari keajaiban infaq, mungkin kita sudah harus mulai membiasakan diri, bukan hanya mempersiapkan masa depan kita melalui berbagai instrumen investasi duniawi seperti saham, emas, bahkan properti. Tapi instrumen investasi akhirat bahkan lebih dahsyat lagi, karena returnnya justru untuk kehidupan di akhirat nanti. Return berlipat yang didapat di dunia hanyalah bonus dan DP dari Allah atas kebaikan kita. Namun return tersebut baru kita peroleh jika amalan kita dilakukan dengan ikhlas. Wallahua’lam.

Iklan