Pelajatan berharga dari Andy Groove ternyata saya alami minggu lalu. Selama 2 minggu saya mengikuti pelatihan Astra Middle Management Program (AMMP). Setiap harinya kelompok bertanding dalam game2 selingan, yang pemenangnya mendapatkan point dalam bentuk bintang. Kelompok saya hampir setiap hari mendapatkan bintang dua atau satu. Ada saja game yang kami menangkan. Hingga hari ke 9 point kami cukup jauh meninggalkan pesaing2 kami. Hinga di hari ke sepukuh (hari terajhir) kami mulai mengendurkan usahal
Feeling saya sih memang sudah tepat. Kemenangan2 kami di hari2 sebelumnya sesungguhnya adalah bukan hasil dari kerja tim yang solid, melainkan kontribusi beberapa individu yang cenderund superior dibandingkan angota tim yang lain. Dan pertandingan di hari terakhir merupakan ujian bagi kekompakan tim yang sesungguhnya.
Permainan pertama dan kedua, yaitu pasang lego, bintang direbut oleh tim lain. Kami masih “bersantai” karena selisih perolehan point kami rasa masih jauh. Dan kami pun masih mampu meraih satu bintang di permainan membuat binatang berkaki dua yang tegak berdiri setinggi mungkin. Beruntung, karena saingan terdekat kami tidak mendapatkan informasi “berkaki dua”, sehingga yang mereka buat adalah ular kobra.
Ketegangan memuncak saat cerdas cermat. Karena tegang, saya sempat blank untuk menjawab. Sementara, di saat pertanyaan berpoint 2, kelompok 5 berhasil menjawab banyak pertanyaan -yang semuanya pertanyaan “sebutkan”, yang merupakan kelemahan saya. Cerdas cermat berakhir dengan kelompok kami bergeser ke posisi 2, dengan selisih 3 point dengan kelompok 5. Kami masih optimis karena selisih tersebut tidaklah jauh.
Permainan terakhir adalaj simulasi asembly plant, dengan menyusun semacam lego untuk dijadikan miniatur trolley. Di saat trial kelompok kami masih belum menemukan formasi yang pas. Setiap sesi pemenang mendapatkan bintang 3. Sesi pertama jalan, dan kelompok kami berada di urutan terakhir. Segera kami ganti formasi. Sesi berikutnya dan seterusnya kami hanya mampu meraih satu bintang di salah satu sesi karena kami berada di urutan ke 3. Sementara kelompok 2, di setiap sesi secara konsisten berada di urutan pertama. Sementara kelompok kami selalu berganti posisi dan berganti CEO, and we were going no where.
Verdict: hasilnya mudah ditebak. Kelompok 2 menjuarai seluruh turnamen, sementara kami meluncur di posisi 3. Apa yang salah ya?
Dalam dunia bishis hal yang sama juga banyak terjadi. Para raksasa banyak yang menjadi korban. Sebut saja : Kodak, Nokia, Sony, dan mungkim tidak lama lagi BlackBerry dan Microsoft. Kembali dengan pernyataan saya di awal, bahwa Andy Groove sudah memberikan pelajaran pentig bahwa only the paranoid will survive. Bisnis yang selalu paranoid akan selalu berinovasi dan beranggapan bahwa yang telah dilakukannya tidak pernah cukup, atau yang akan dilakukan pesaing selalu lebih baik. Coba lihat kasus Kodak yang dahulu merupakam raja di efa film foto masih hidup. Kini Kodak mengajukam pailit di tengah ketidak-kompetitifannya di era fotografi digital ini. Yang ironis adalah Kodak adalah penemu fotografi digital, sensor megapixel, serta kemampuan kamera berkomunikasi via wifi. Namun Kodak terlambat mengeksploitasikan paten mereka, dan harus bertekuk lutut di hadapam Nikon, Canon, dan Olympus. Mereka terbuai oleh kejayaan masa lalu, dan terus berharap bahwa film akan terus menjadi pilihan fotografer. Hal ini seperti yang saya rasakan di saat kami leading, dan terua berharap bahwa keberuntungan terus berpihak pada kami dengan memberikan kemenangan.
Kasus lainya juga dihadapi oleh Sony, yang dulunya sangat dikagumi oleh imovasinya seperti walkman, namu entah kenapa akhir2 ini seperti tertidur, hingga mereka harus mengakui kedigjayaan rival mereka – Samsung, yang telah menggeser posisi Sony dalam nilai mereknya. Nokia pun juga harus mengakui kehebatan BlackBerry, Iphone, dan android. Walaupun BlackBerry juga kemungkinam akan mengalami hal yang sama karena saat ini mereka kesulitan mengadapi kehebatan android. Sementara di Indonesia, yang nyafis mengalami hal yang sama adalah Honda motor. Butuh lebih dari 5 tahun Honda berusaha keras agar posisi dominannya tidak diganggu oleh Yamaha. Hingga kini, Honda masih berupaya keras untuk menjadi juara sejati, karena untuk beberapa segmen dan area, Honda masih harus mengakui keunggulan YAMAHA.
Pelajaran berharga dari semua ini adalah, jangan pernah berpuas diri. Selalu paranoidlah. Selalu berpikir bahwa pastiada cara yang lebih naik lagi, kompetitor pasti berusaha dengan lebih baik lagi, customer selalu meminta lebih dan lebih lagi. Jika kita berada di posisi leading, percayalah bahwa musuh terbesar kita adalah diri kita sendiri. Jika kita tidak bisa mengalahkan diri sendiri, maka kompetorlah yang akan mengalahkannya.

Iklan