Tulisan ini bukan bermaksud untuk menyambut ulangtahun bung Karno yang berlangsung pada tanggal 6 Juni yang lalu. Kebetulan pula pada tanggal yang sama 67 tahun yang lalu merupakan moment penting dalam sejarah di mana tentara sekutu mendarat di normandia, yang mengubah arah perang dunia kedua saat itu, yang secara langsung berpengaruh secara signifikan terhadap peta politik global saat ini.
Tulisan ini justru terinspirasi oleh event terbesar saat ini, yaitu pesta bola piala eropa. Dimulai dari pembicaraan tidak pentig di sebuah sudut kantor antara para penggila bola yang beradu argumen tentang siapa yangakan menjadi jawara eropa tahun ini. Jawaban setiap orang berbeda dan memiliki argumennya masing-masing. Ada satu kesamaan dan pola argumen, yaitu semuanya berlandaskan sejarah dan history masing-masing negara. Ada yang bilang juaranya adalah Jerman, karena sevara historis memiliki mental juara dan tim yangsolid. Memang Jerman saat ini adalah pemegang tropi terbanyak pada piala eropa. Ada pula yang bilang Belanda, karena belakangan ini memiliki rekor yang sangat baik dalam laga persahabatan. Ada pula yang bilang Spanyol, karena memang juara bertahan. Yangmenarik ada pula yang bilang Italia memiliki peluang, walaupun akhir2 ini tidak memiliki rekor pertandingan yang meyakinkan. Argumennya pun lagi2 historis, bahwa Italia selalu berjaya di kala liganya dilanda skandal. Memang pada tahun 2006 ketika menjadi juara di piala dunia, liga italy baru saja diguncang skandal pengaturan skor yang menyebabkan Juventus harus rela terdegradasi. Saat ini pula liga Italy sedang diguncang oleh skandal yang sama. Sang kiper nomor 1, Buffon sedang was2 menanti penyidikan pengadilan. Jika dia erbukti bersalah, maka dia harushengkang dari laga piala eropa.
Secara alami manusia selalu menggunakan pengalaman, sejarah, daya history untuk memprediksi apa yang akan terjadi di masa yang akan datang. Seperti halnya menebak siapa yang akan menjadi juara piala eropa, dalam dumia bisnis pun data historis sering dijadikan acuan dalam merencanakan aktivitasnya di masa mendatang. Memang wajar, karena masa lalu dan pengalamanlah yang dimiliki manusia saat ini.
Namun ada satu yang sering dilupakan. Seperti kata bung Karno: “jas merah”, jangan sekali-kali melupakan sejarah. Lha? Semua kan menggunakan sejarah dalam meencanakan masa depannya? Apa yang salah?
Meminjam dari sejarah bola, ada satu fakta sejarah yang pasti: kesuksesan masa lalu bukanlah kunci sukses bagi kesuksesan masa kini dan masa depan. Bukan jaminan bahwa Spanyol yang merupakan juara eropa dan dunia yang lalu dapat menjadi juara eropa saat ini. Sudah banyak pengalaman yang menunjukkannya. Walaupun dengan materi pemain yang sama sekalipun, dua tim yang bertanding di saat yang berbeda, belum tentu akan menghasilkan skor yang sama. Bola itu bundar, demikian pula dunia. Perubahan selalu terjadi. Seperti kata Einstein, bahwa kita tidak dapa memecahkan permasalahan dengan pola pikir yang sama ketika kita menciptakan masalah tersebut.
Sejarah juga membuktikan bahwa bangsa yang dulunya besar bukanlah jaminan menjadi bangsa yang besar saat ini. Siapa yang mengira bangsa Yunani yang saat ini didera krisis ekonomi, dulunya merupakan bangsa besar yang berisikan filsuf terkenal dan prajurit hebat dari sparta. Ketika melihat film 300, kita akan mengagumi betapa hebatnya Leonidas memimpin segelintir pasukan Sparta menghadapi ratusan ribu pasukan persia. Kita pun tidak akan lupa kehebatan megas aleksandros alias Alexander the great menaklukkan mesir, persia, dan berupaya menaklukan india. Yunani di masa lalu memiliki banyak pemimpin hebat sekaligus orang pintar namun di masa kini kehebatan dan kepintaran tersebut menguap entah ke mana.
Kerajaan romawi yang dulu digjaya, seolah tidak menurunkan kemampuan, organisasi, dan efisiensi berperangnya pada bangsa italia. Seperti yang kita ketahui, tentara italia pada perang dunia kedua di bawah Benito musholini sangat mandul dan manja di bawah bayang2 tentara nazi Jerman. Tidak seperti tentara romawi yang hebat ketika menaklukkam tentara Gothic yang katanya nenek moyang bangsa Jerman.
Sejarah selalu menunjukkan tidak ada kesuksesan yang abadi. Kehebatan perusahaan belumlah teruji karena belum ada perushaan raksasa yang berusia lebih dari dua abad. Perusahaan yang hebat banyak digambarkan dalam buku2 manajemen populer seperti buku Good to Great, atau Greater by choice karya Jim Collins. Dengan menetapkan praktek2 manajeman tertentu, perushaan2 tersebut mamou bertahan bahkan berjaya. Pertanyaannya, jika perushaan kita mempraktekkan seluruh yang dituliskan pada buku2 tersebut, akan menjadi jaminan perushaan kita akan langgeng betjaya? Jawabannya, belum tentu. Buku tersebut ditulis pada konteks lokasi, bangsa, dan waktu yang berbeda. Selain itu, buku tersebut dibaca banyak orang, yang memungkinkan semakin banyak orang yang melakukan hal yang sama, sehingga di masa mendatang tidak relevan lagi menjadi kompetitif advantage.
Lalu bagaimana kita menghunakan sejarah untuk menghadapi masa depan? Pelajari konteksnya juga. Setelah itu, biarkan otak kreatif kita bekerja. Tumbuhkan inovasi, karena masa depan diciptakan oleh orang2 kreayif dan inovatif. Dengan demikian, sejarah bukanlah untuk dilupakan, maupun ditiru kesuksesannya. Jangan sekalikali lupakan sejarah, bahwa kesuksesan masalalu bukan kunci sukses masa depan.

Iklan