Saya pernah membaca sebuah e-mail yang menceritakan seorang anak kecil yang tidak tega melihat perjuangan kepompong untuk menjadi kupu-kupu. Anak itu akhirnya "membantu" kepompong untuk keluar. Namun, sang kepompong yang sejatinya harus menjadi kupu-kupu yang indah setelah berjuang keluar dari kepompongnya, akhirnya menggelepar lemah dan mati. Ternyata, upaya keluar dari kepompong tersebut adalah tahapan yang harus dihadapi oleh kepompong untuk dapat kuat dan terbang menjadi kupu-kupu yang indah. Ketidaktegaan anak kecil tersebut, yang awalnya berniat membantu, justru membunuh sang kepompong.

Ada cerita yang lebih tragis lagi, yang kurang lebih mirip dengan cerita kepompong di atas. Di suatu daerah, seorang ibu menunggui anaknya yang baru operasi usus buntu. Setelah siuman dari biusnya, sang anak merengek-rengek kepada ibunya untuk minum. Seperti yang kita ketahui, sebelum pasien buang angin, dilarang keras makan atau minum. Karena keluguan dan ketidaktegaanya kepada anaknya, akhirnya sang ibu pun memberikan minum kepada anaknya. Dan akibatnya pun fatal. Sang anak akhirnya meninggal dunia. Ketidaktegaan sang ibu, juga "membunuh" anaknya sendiri.

Seringkali dalam kehidupan, kita ingin membantu orang yang kesusahan. Hal ini adalah wajar, karena memang dirikita memiliki hati. Seperti melihat bayi yang sedang kesusahan untuk belajar merangkak, hati kita selalu tergerak untuk segera menggendong bayi tersebut. Atau terhadap anak yang lebih besar lagi. Dengan alasan kasih(an) sayang, sang anak tidak diberikan "beban", dan dimanja. Efeknya apa? Sang bayi akan lambat untuk merangkak, apalagi berjalan. Hal ini juga berpengaruh pada dirinya disaat dewasa. Fighting spirit akan lemah, karena sejak kecil tidak mengalami beban dan hambatan. Ketika dewasa, tidak siap menghadapi hambatan hidup.

Kakak saya, seorang psikolog, mengeluhkan buruknya mutu lulusan sarjana saat ini. Fighting spiritnya lemah, katanya. Mungkin ini disebabkan semakin "mudahnya" jaman ini. Kemakmuran meningkat, orang tua memberikan segala sesuatunya kepada anak. Efeknya? Seperti kepompong tadi, anak tidak siap menghadapi tantangan hidup. Terkadang, kita perlu sedikit "kejam". Kita harus dapat memberikan tantangan, ujian, dan hambatan kepada anak, sebagai "latihan" menghadapi kehidupan. Seperti jargon dalam militer "lebih baik banjir keringat saat latihan, daripada banjir darah saat perang". Pepatah lama memang selalu relevan "bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian". Lebih baik anak menghadapi "kesusahan" saat ini, daripada sang anak susah menghadapi kerasnya kehidupan, yang semakin lama justru semakin kejam.

Jadi, lebih tidak tega mana kita melihat anak kita menangis kesulitan saat merangkak, atau anak kita akhirnya menangis karena tidak tahan menghadapi kerasnya kehidupan?

Regards,

Irwan Akhir Priatmaja

Organization Department

Corporate Human Capital Development

PT Astra International Tbk

phone: (021) 6522555 ext 217

Iklan