Konon, jaman dahulu kala angin timur dan angin barat bersahabat erat. Walaupun demikian, mereka memiliki sifat yang bersebrangan. Angin barat bersifat suka memamerkan diri, sombong, angkuh, keras, sementara angin barat lebih rendah hati, tenang, kalem, bersahaja. Suatu hari angin barat menantang angin timur. Mereka melihat seorang anak yang duduk di atas pohon, kemudian angin barat menantang angin timur untuk menjatuhkan anak tersebut dari pohon tersebut. Angin timur sebetulnya tidak ingin melayani tantangan tersebut.Tapi, karena terus dipaksa, akhirnya dia bilang “ok, kuterima tantanganmu”.

Angin barat mendapat giliran pertama. Dia menghembuskan angin sekeras-kerasnya kepada anak tersebut. Namun, semakin keras angin barat bertiup, semakin erat pegangan anak tersebut pada pohonnya. Setelah sekian lama, akhirnya angin barat menyerah, anak tersebut tidak berhasil dijatuhkannya dari pohon. Tiba giliran angin timur. Berbeda dengan cara angin barat, angin timur menghembuskan tiupan angin sepoi-sepoi. Lebut. Tenang. Anak kecil di atas pohon sangat menikmati hembusan tersebut. Lama kelamaan, akhirnya dia terkantuk-kantuk dan tertidur. Karena tertidur, anak tersebut pun jatuh dari pohon tersebut…

Kita bicara angin di sini bukan karena kita sedang menghadapi musim pancaroba yang sukses membuat banyak orang flu dan bemasalah dengan perutnya. Di sini kita bisa memetik moral, bahwa pemecahan masalah sering kali lebih efektif dengan cara kelembutan, bukan kekerasan. Sering kali kita berusaha memecahkan sebuah masalah dengan marah, emosi, tapi… apa hasilnya? Sering kali pula cara-cara tersebut tidak efektif, malahan menimbulkan masalah baru. Saya juga punya pengalaman dengan pemecahan masalah, baik dengan marah-marah, maupun dengan cara yang bijaksana. Ada rekan kerja saya yang relatif emosional, yang menghadapi masalah sering dengan cara yang emosional. Suatu saat, saya juga membalasnya dengan frontal emosional… and the result is known: no problem solved. Di lain waktu, ketika dia mulai emosional, saya coba menghadapinya dengan lebih tenang, dingin, dan bijak (walaupun hati ini udah bergejolak panas loh!). And the result was: solved!

Tipsnya kalo kita mencoba memecahkan sebuah masalah: Coba lebih tenang lagi. Fokus pada masalah, bukan dengan emosi negatif kita. Yakinlah bahwa kebijaksanaan itu bisa memecahkan masalah tanpa masalah. Jika kita marah, arahkan energi marah kita ke cara yang lain, misalnya olah raga, atow main game (kalo saya sih buat BLOG). So… ngapain marah-marah?

Sumber: smart emotion capsul di SmartFM, by Antony Dio Martin, from HR Excellency

Iklan