Buku ini cukup membuat kita tercengang bahwa prinsip-prinsip manajemen dan kepemimpinan justru berasal dari rakyat jelata di abad ke 15 yang bisa menjadi penguasa Jepang di masa itu. Buku ini menceritakan perjalanan Toyotomi Hideyosi menjadi penguasa Jepang. Dia bukanlah dari kalangan bangsawan maupun kesatria. Di buku tersebut digambarkan bahwa dia juga bukan orang yang memiliki fisik yang rupawan. Bahkan dia tidak pandai bela diri dan menggunakan pedang. Judul “swordless samurai” cukup menggambarkan bahwa ternyata ketajaman otak bisa mengalahkan ketajaman samurai, sehingga bisa mengantarkannya di pucuk pimpinan, mengalahkan para Jenderal yang pandai bermain pedang.
Di akhir ceritanya ternyata kunci dari kesuksesannya (selain dari kecerdasannya) adalah MEMBERI. Sebelum kita berharap memperoleh sesuatu, kita harus terlebih dahulu MEMBERI.

Iklan