Kemarin, 31 Mei 2013 adalah hari terakhir beroperasinya multiply, salah satu situs e-commerce yang dulunya adalah media social media. Menurut http://tekno.kompas.com/read/2013/05/31/16181199/Selamat.Tinggal.Multiply.Indonesia, situs ini gagal berevolusi dari social media menjadi situs e-commerce. Saya adalah salah seorang yang kehilangan situs ini, karena toko buku online saya ada di sini (noblegrey.multiply.com). Saya pun memiliki galeri foto (irwanap.multiply.com). Padamulanya saya mengenal multiply sebagai media sharin tulisan dan foto. Karena kawan2 fottografer saya mem-post fotonya di sini, maka saya pun ikut2an membuat galeri di sini. Selain itu, saya pun bisa mencurahkan ide2 melalui fasilitas blog.
Sejak dulu, multiply tidak hanya media ajang sharing ide, foto, music, bahkan video. Model bisnisnya dulu adalah selain dari iklan juga layanan premium berbayar dengan kapasitas penyimpanan yang lebih besar, serta fasilitas lainnya. Tidak ada data atau informasi yang menunjukkan apakah model bisnis ini cukup efektif bagi multiply untuk meng-generate penghasilan atau tidak.
Namun dalam perjalannya, ternyata banyak juga user yang memanfaatkan fasilitas marketplace-nya. Beberapa kawan saya berhasil memanfaatkan fasilitas ini untuk mendapatkan penghasilan tambahan.
Mungkin inilah yang memberikan inspirasi bagi para punggawa multiply untuk mengubah layanannya dari social media menjadi e-commerce. Di tahun 2010 saya pun membukan akun baru di multiply untuk toko buku online. Fasilitas yang ditawarkan cukup menarik, ada stock room dan fasilitas pembayaran. Model bisnisnya menjadi fasilitas berbayar untuk premium user dan trusted seller sebagai “sewa lapak”. Pada mulanya, multiply juga memberlakukan uang catut sebesar 3% dari setiap transaksi. Namun gosipnya hal ini diprotes oleh para penggunanya. Beberapa bulan sebelum ditutup, multiply mengumumkan hal yang menurut saya menjadi titik balik bagi multiply. Saat itu diumumkan bahwa di dalam multiply tidak diperkenankan untuk menjual barang2 ilegal, seperti barang2 KW, palsu dsb. Walaupun tidak ada informasi yang jelas, tapi saya merasa inilah yang membuat para pelanggan multiply “hengkang”. Ini karena menurut pengamatan saya, kebanyakan penjual di multiply justru adalah ibu2 (yang biasa saling menyapa “sis”) yang mencari penghasilan dari menjual produk2 KW. Jika dugaan saya tidak salah, inilah yang menyebabkan multiply akhirnya tutup tidak lama setelah pengumuman tersebut disampaikan.

know your customer
Langkah multiply yang pada mulanya beralih dari sosial media menjad full e-commerce saya pikir dahulu adalah langkah yang jeli dan cerdas. dengan melihat bahwa cukup banyak penggunanya yang menggunakan akun-nya sebagai lapak jualan. Namun langkah multiply untuk mempertegas kebijakannya untuk melarang pengunanya menjual produk palsu adalah keberanian yang luar biasa. Saya tidak dalam rangka menilai apakah langkah multuply ini adalah tepat atau tidak. Namun keberanian tersebut justru berbuah pahit berujung pada penutupan bisnis. Alangkah ironisnya keberanian menjaga integritas ternyata berujung fatal di negeri ini.
Shareholder multiply akhirnya memutuskan untuk menutup multiply karena kelihatannya model bisnis yang dijalankannya tidak membuahkan hasil yang sustainable.

Iklan