Minggu ini saya mendapatkan insight yang sangat berharga terkait konteks. Hari senin kami kedatangan konsultan yang baru melakukan assessment seberapa agile organisasi kami. Dalam laporannya konsultan kami menghighlight beberapa gap yang dianggap menghambat perusahaan untuk menjadi organisasi yang agile. Salah satunya adalah kurang aktifnya mid management dalam mensosialisasikan tujuan perusahaan kepada bawahannya, Argumen-nya adalah dibutuhkan gerakan yang masal dalam mensosialisasikan visi perusahaan. Memang dalam perusahaan kami BOD sangat aktif dan secara reguler mengulang-ulang terus visi dan misi perusahaan kepada seluruh karyawan. Masing-masing direktorat memiliki ritualnya masing-masing. Di HR ada Townhall meeting, di Operation ada people forum. Di dalam acara ini, direksinya berbicara di depan seluruh karyawan di direktoratnya mengenai visi, misi, values serta kondisi perusahaan saat ini. Memang dalam score pemahaman karyawan tentang visi dan misi perusahaan memiliki score yang tinggi. Sehingga, secara result memang terlihat baik, namun konsultan kami menghighlight walaupun score nya tinggi, namun ada potensi resiko dengan tidak terlihatnya peran aktif mid management dalam sosialisasi visi dan misi perusahaan. Akhirnya saya challenge mereka, apa resikonya? Resikonya memang baru potensi resiko, karena model yang dilakukan saat ini memang efektif dengan konteks saat ini, yaitu perusahaan start up yang jumlah karyawannya kurang dari 400 orang. Satu konteks yang kurang dipahami oleh konsultan adalah, bahwa ke depannya dengan strategi asset light yang dimiliki perusahaan, memang organisasi ini akan di desain secara slim dan lean. Kita akan memanfaatkan digitalisasi proses sehingga jumlah karyawan diekspektasi akan relatif tetap. Statement yang judgemental seperti yang dilakukan oleh konsultan tersebut, jika tanpa memahami konteksnya, tentu akan menjadi missleading. Konsultan tersebut terlihat lebih mendasari prosesnya kepada standard ketimbang prinsip. Bahayanya kita terlalu berpegang pada standard, alih-alih prinsip akan dibahas dalam tulisan lain (ingatkan saya ya).

Insight kedua datang dari seorang sahabat di kantor saya yang tugasnya adalah menganalisa data perusahaan. Dia datang ke ruangan saya dengan pertanyaan sederhana: “Kalo loe jadi sales mobil, gua punya seribu data, kira-kira karakteristik data apa sampe loe bilang data gua bagus atau nggak?” Ya saya jawab aja, “datanya bikin gua gampang jualan, kalo loe punya data 1000 dikasih ke gua sebagai prospect, ya semuanya deal”. Nah, data seperti apa yang dibutuhkan? Perilaku membeli? Demografi? Psikografi? Usut-punya usut, ternyata dia sedang ditanya sama presdirnya:” Data yang kita punya saat ini kondisinya poor, fair, good, atau excellent?”. Nah, teman saya ini punya kesulitan menjawabnya. Akhirnya saya tanya: “Data ini nantinya dipake buat apa?”. “Cross selling” Jawabnya. Memang nggak mau dipake untuk peluang pasar baru? Atau membuat produk baru? Akhirnya saya perkenalkan dia dengan ansoff matrix.

Ansoff matrix. Source: https://www.smartinsights.com/wp-content/uploads/2013/10/Ansoff-matrix.png

Di dalam ansoff matrix strategi pengembangan pasar kita terbagi atas dua besar: dari segi market atau produk. Dengan melihat ansoff matrix di atas, akhirnya kawan saya lebih dapat menentukan, apakah datanya itu bagus atau jelek, tergantung konteksnya, mau dipake buat apa data itu.

Kata konteks sering digunakan orang, tapi mungkin jarang orang paham maksudnya apa. Konteks menurut KBBI artinya adalah:

konteks/kon·teks/ /kontéks/ n1Ling bagian suatu uraian atau kalimat yang dapat mendukung atau menambah kejelasan makna; 2 situasi yang ada hubungannya dengan suatu kejadian: orang itu harus dilihat sebagai manusia yang utuh dalam — kehidupan pribadi dan masyarakatnya;

— budayaLing keseluruhan budaya atau situasi nonlinguistis tempat sebuah komunikasi terjadi;

— linguistisLing konteks yang memberikan makna yang paling cocok pada unsur bahasa;

— semotaktisLing lingkungan semantis yang ada di sekitar suatu unsur bahasa; makna unsur bahasa;

— sintaktisLing lingkungan gramatikal dari suatu unsur bahasa yang menentukan kelas dan fungsi unsur tersebut;

— situasiLing lingkungan nonlinguistis ujaran yang merupakan alat untuk memperinci ciri-ciri situasi yang diperlukan untuk memahami makna ujaran

Dari definisi tersebut, seharusnya sudah cukup jelas bahwa dengan konteks yang berhubungan dengan suatu kejadian, maknanya akan berbeda apabila dikaitkan dengan kejadian yang berbeda. Untuk mempermudah, kita lihat kayu yang memiliki sifat isolator panas itu bagus atau jelek ya? Jawabannya: tergantung konteksnya, mau dipake untuk apa. Kalo kita sekarang sedang membutuhkan bahan untuk menghantarkan panas,dan adanya hanya kayu, ya berarti jelek donk.

Hal ini mengingatkan saya juga akan statemen presdir di perusahaan saya sebelumnya. Beliau selalu menekankan, tidak ada bagus atau jelek, tidak ada benar atau salah. Yang ada kita berada di kotak yang sama atau tidak. Seringkali juga perasaan dan sikap kita akan suatu hal yang sesungguhnya netral mempengaruhi bagaimana kita memandangnya. Contoh: jika seseorang sering mengubah keputusannya, musuh akan mengatakan: “dasar mencla mencle, plin plan”. Tapi teman akan mengatakan “wah fleksible banget ya”. Ya, barangnya sih itu itu aja, netral. Sikap kita lah (konteksnya) yang menentukan apa yang kita ucapkan.

Dalam ilmu manajemen, konteks sangatlah penting. Masih banyak praktisi manajemen yang lebih berkutat pada tools dan trend, bukan pemahaman prinsip kenapa tools itu digunakan, dan kecocokan penggunaan tools itu. Contoh, penggunaan distribusi normal sebagai tools dalam performance managementdi slalah satu perusahaan besar. Hingga jaman now seperti ini masih aja ada yang menggunakan, karena dianggapnya tools ini digunakan oleh perusahaan besar seperti GE (pada jaman dahulu kala katanya). Padahal, perusahaan tersebut culturenya sangat kuat dengan team work. Distribusi normal digunakan untuk organisasi agar menciptakan iklim kompetisi yang ketat, sehingga akan menghargai individu. Sialnya, DNA perusahaan itu sesungguhnya lebih percaya super team alih alih super man. Efeknya? Lama kelamaan budaya team work tergerus karena orang lebih mengamankan KPInya sendiri daripada membantu temannya. Tambah lagi, dengan menggeser dari gaya sosialis menjadi kapitalis yang cenderung transaksional, manajemen perusahaan itu bingung: kok anak sekarang lucu ya, membandingkan performance satu dengan yang lainnya. You made all of this sir! Itu eefeknya kalau kita lebih berfokus kepada penerapan sistem tanpa memahami kenapa sistem itu dibuat. Tools tersebut cocoknya dengan konteks organisasi seperti apa ya. Yah begitulah jika perusahaan menempatkan orang yang less competent, akhirnya hanya di drive oleh konsultan yang tidak paham juga dengan konteks organisasi kita. Pity!

Iklan